Arab Ancam Kurangi Kuota, Jemaah Umroh Dilarang Overstay
Rabu, 27 Jul 2005 15:11 WIB
Jakarta -
Ikatan Persaudaran Haji Indonesia (IPHI) menyerukan seluruh jemaah umroh asal Indonesia segera kembali ke Tanah Air setelah masa tinggal mereka di Arab Saudi habis. Seruan itu disampaikan terkait ancaman Arab Saudi yang akan mengurangi kuota jemaah haji. "Jangan overstay. Kunjungan pertama adalah umroh. Kalau mau ada tujuan lainnya kembali dulu ke Tanah Air, baru diurus, " kata Wakil Ketua Umum IPHI Adnan Harahap usai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Rabu (27/7/2005). Pemerintah Arab Saudi mengeluhkan banyaknya jamaah umroh asal Indonesia yang masih berada di Tanah Suci meski izin tinggalnya telah habis. Para jemaah beralasan tetap tinggal agar langsung dapat mengikuti ibadah haji musim berikutnya. Atas pelanggaran ketentuan imigrasi itu, pihak berwenang Arab Saudi mengancam akan mengurangi jumlah kuota haji 2006 yang telah ditetapkan sebanyak 205 ribu orang. Adnan mengingatkan para jemaah umroh menjaga nama baik bangsa dengan mentaati ketentuan yang berlaku di Arab Saudi. Meksi alasannya untuk beribadah, overstay tetap merupakan pelanggaran hukum."Bisa macam-macam akibat dari kondisi demikian. Tolong organisasi penyelenggara umroh mengupayakan semua jemaah yang diberangkatkannya bisa pulang sebelum musim haji," kata Adnan. IPHI sendiri mengaku tidak memiliki data jumlah jemaah umroh tahun ini. Namun Adnan yakin jumlah jamaah yang overstay tak terlalu banyak. Jumlah pelanggaran ketentuan imigrasi terus berkurang seiring pengaturan pemberangkatan ibadah umroh dan haji. "Di era 1980-an banyak jamaah yang berangkat dengan visa umroh terjun bebas tidak mau pulang lagi. Tahun 1983 jumlahnya mencapai 25 ribu orang, kemudian menurun menjadi 10 ribu dan 3 ribu orang pada awal tahun 1990," jelas Adnan.IPHI menemui Wapres untuk kembali menyampaikan usulan pengelolaan dan penyelenggaraan tabungan haji. IPHI berharap pemerintah bisa menerapkan sistem yang diberlakukan di Malaysia.Wapres menerima usulan itu tapi mengingatkan ada perbedaan mendasar antara sistem keuangan di Indonesia dengan Malaysia. Perbedaan itu yakni nilai tukar mata uang Malaysia terhadap dolar jauh lebih stabil dibanding rupiah.
(iy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































