DetikNews
Rabu 11 Juli 2018, 17:07 WIB

Mendkibud: SKTM Palsu karena Mindset Berburu Sekolah Favorit

Parastiti Kharisma Putri - detikNews
Mendkibud: SKTM Palsu karena Mindset Berburu Sekolah Favorit Mendikbud Muhadjir Effendy (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mendikbud Muhadjir Effendy berbicara mengenai masih banyaknya orang tua yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) palsu untuk mendaftarkan sekolah anaknya. Dia menuturkan tindakan tersebut akibat pola pikir masyarakat yang ingin mendapat sekolah favorit.

"Itu kan kelakuan masyarakat yang masih berburu, akibat dari kelakuan masyarakat yang masih memandang bahwa sekolah favorit itu masih menjadi pilihan utama," kata Muhadjir di Hotel Kartika Chandra, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (11/7/2018).
Menurutnya, masyarakat seharusnya membuang pola pikir tersebut di era sekarang. "Padahal itu sudah harus dihilangkan mindset berburu sekolah favorit itu," sebutnya.

Muhadjir mengimbau orang tua tak 'bohong' terkait SKTM tersebut. Apalagi SKTM palsu itu juga merusak karakter anak.

"Saya imbau tidak boleh berbohong! Karena, kalau dia bohong pakai SKTM palsu itu, di samping dia berbohong, juga telah merusak karakter anaknya sendiri. Karena telah memberi contoh bagaimana cara bohong," tuturnya.
SKTM menjadi polemik dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA sederajat. Bahkan di Jawa Tengah ada 78.065 pendaftar menggunakan SKTM, padahal tergolong keluarga mampu.

Hal itu diketahui ketika Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melakukan inspeksi mendadak ke kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Diketahui, ada 78.065 pendaftar di SMA dan SMK se-Jateng. Semuanya telah dicoret.

Dari data dinas pendidikan, pendaftar di SMA negeri yang menggunakan SKTM sebanyak 62.456 orang dan ternyata yang benar-benar siswa miskin ada 26.507 pendaftar. Sedangkan di SMK negeri, ada 86.436 pendaftar yang menggunakan SKTM dan yang lolos ada 44.320 pendaftar.

"Sekarang, dari 62.456 (pendaftar di SMA negeri), yang menggunakan SKTM yang lolos 26.507, sebagian besar coret," tegas Ganjar di kantor Dinas Pendidikan Jateng, Jalan Pemuda, Semarang, Selasa (10/7).
(yas/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed