Sejumlah kandidat yang diusung PDIP di sejumlah provinsi dan kabupaten kalah telak dalam pilkada lalu. Dari tiga pilgub utama di Pulau Jawa, calon PDIP kalah di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Tengah, kemenangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin, yang diusung PDIP, tak seberapa besar.
Tonton juga video: 'Koalisi Jokowi Belum Tentu Sreg dengan Selera Cawapres Megawati'
Di Sumatera Utara, dengan penduduk terbesar di pulau terbarat Indonesia itu, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, yang diusung PDIP, juga mengalami kekalahan. Fakta inilah yang menurut Rico menggoyahkan posisi Megawati sebagai king maker Pilpres 2019.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, lanjut Rico, sejauh ini PDIP-lah yang diuntungkan dalam hal elektabilitas dengan mengusung Jokowi sebagai capres 2019. Jadi, bisa saja suara PDIP akan turun jika tak mengusung Jokowi.
Menurut Rico, memang Jokowi akan lebih baik jika tetap maju dari PDIP. Namun, jika ada paksaan dalam penentuan pasangan calon wakil presiden yang bisa merugikan Jokowi, bisa saja dia maju dari partai selain PDIP. Misalnya dari Golkar dan PKB.
"Posisi ini seharusnya dipahami dengan baik oleh Megawati," papar Rico.
Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memiliki analisis yang sama dengan Rico. Hasil pemilihan gubernur-wakil gubernur di Jawa Barat dan Jawa Tengah, menurut Arya, memperlihatkan kekuatan PDIP di dua daerah itu mulai berkurang.
"Dengan berkurangnya kekuatan PDIP di Jabar dan Jateng, posisi PDIP mulai melemah di hadapan Jokowi. Bargaining Mega dengan Jokowi mulai melemah," kata Arya saat berbincang dengan detikcom, Senin (2/7).
Ini berbeda dengan 2014. Saat itu posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum PDIP sangat powerfull. Sebaliknya, sekarang kekuatan Jokowi bertambah lantaran ada dukungan dari NasDem, Golkar, Hanura, PPP, dan lainnya.












































