"Kalau kita lihat situasi Jokowi saat ini lebih rumit dibandingkan dengan situasi SBY pada 2009. Kenapa? Ada beberapa hal. Pertama faktor elektoral. Elektoral Jokowi memang tidak sekuat Pak SBY pada periode kedua. Kemudian kedua, posisi Pak Jokowi yang tanda kutip sebagai 'petugas partai'," kata Adjie kepada wartawan di kantornya, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (10/7/2018)
Ia menilai penggodokan nama cawapres Jokowi di kalangan internal PDIP akan melalui proses diskusi yang cukup alot. Sebab, sebagai petugas partai, Jokowi pasti akan mengikuti arahan ketua partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita lihat dari sisi bargaining, saat ini PDIP tidak punya pilihan yang banyak ya untuk memaksakan internal dari PDIP. Karena tadi tiket sudah diraih Jokowi. Tanpa PDIP, Jokowi bisa maju sebagai capres," imbuh dia.
Selain itu, menurutnya, PDIP juga tidak punya nama kandidat yang cukup kuat untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019.
"Kedua, kita lihat dari PDIP tidak ada nama yang cukup kuat dan bisa membantu Pak Jokowi baik secara elektoral maupun meningkatkan kapasitas pemerintahan. Dari nama yang muncul saat ini, Puan atau Budi Gunawan adalah nama yang sebetulnya tidak populer di publik dan secara kualitatif tidak kuat meningkatkan kualitas pemerintahan," ujarnya.
"Jadi posisi Pak Jokowi lebih kuat dibandingkan posisi Megawati ya untuk menentukan siapa cawapres Pak Jokowi," tuturnya. (idh/idh)











































