Terinfeksi Flu Burung, Unggas Boyolali Diisolir
Rabu, 27 Jul 2005 02:04 WIB
Boyolali - Ribuan unggas di Boyolali mati dalam dua bulan terakhir. Hasil pemeriksaan menyimpulkan positif terjangkit virus flu burung. Pemerintah setempat memutuskan mengisolir hewan yang masih hidup dengan tidak membawanya keluar daerah karena akan dimusnahkan.Kepala Dinas Peternakan dan Perikana Kabupaten Boyolali Djoko Waluyo menegaskan bahwa tiga desa di tiga kecamatan daerahnya positif terjangkit virus flu burung. Tiga desa itu adalah Desa Karangmojo di Kecamatan Klego, Desa Tegalrejo di Kecamatan Ngemplak dan Desa Tawangsari di Kecamatan Teras.Kepastian itu, kata Djoko, didapat dari hasil pemeriksaan sampel darah dan kotoran unggas yang dilakukan di Yogyakarta. Pengiriman sampel itu dilakukan Pemkab Boyolali karena dalam dua bulan terakhir ribuan ayam dan puyuh yang diternakkan penduduk di ketiga tempat itu ditemukan mati mendadak.Dari 257.300 ekor unggas, tidak kurang dari 126.925 ekor ditemukan mati. "Untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus maka kami memutuskan untuk melakukan isolasi. Seluruh unggas dari daerah tersebut, terutama ayam dan puyuh harus terlebih dahulu melalui pemeriksaan yang ketat sebelum dibawa keluar daerah," ujarnya, Selasa (26/7/2005).Langkah lain yang ditempuh Pemkab Boyolali adalah memberikan vaksin kepada peternak untuk menyelamatkan unggas yang belum tertular. Sedangkan unggas yangdinyatakan tertular namun belum mati, menurut Djoko, dalam waktu dekat akan dimusnahkan dengan cara dibakar dan selanjutnya akan dikubur.Penyemprotan Unggas di PasarSementara itu di Pasar Unggas Semanggi, Solo, dilakukan penyemprotan unggas yang dilakukan oleh petugas dari Pemkot Solo. Unggas-unggas yang akan dikirim ke Jakarta dan Jawa Barat terlebih dulu disemprot sebelum dikirim.Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Surakarta W Nugroho yang memimpin langsung penyemprotan mengatakan bahwa unggas yang masuk ke pasar unggas Solo dalam kondisi sehat, namun demikian perlu dilakukan penyemprotan sebagai upaya sterilisasi. Unggas di pasar itu, kata dia berasal dari daerah yang aman dari virus fluburung. "Unggas yang masuk Solo berasal dari Kediri, Blitar, Madiun, Ngawi dan dari sekitar Solo sendiri. Daerah itu aman dari wabah flu burung. Jadi tidak beralasan jika ayam dari Solo dilarang masuk ke daerah lain," paparnya. Namun demikian dia mengakui semenjak terjadi wabah flu burung permintaan pengiriman unggas dari Solo merosot 50 persen lebih.
(ddn/)











































