Buaya Gigit dan Seret Bocah yang Ambil Air Sungai di Jambi

Ferdi - detikNews
Minggu, 08 Jul 2018 13:22 WIB
Ilustrasi (ist.)
Jamb - Niat ingin mengambil air di sungai, seorang bocah kelas 6 SD Yadi Putra diseret dan digigit buaya rawa. Untungnya, warga Kelurahan Teluk Dawan, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Sabak) Jambi masih tertolong.

Kejadian itu pada Sabtu malam (7/7) sekitar pukul 22.30 WIB, ketika itu Yadi seorang diri berada di sungai yang tak jauh dari rumahnya. Tujuannya ialah untuk mengambil air di sungai tersebut, posisi yang membungkuk menarik perhatian buaya. Secepat kilat, buaya itu langsung mengigit tangan kiri anak itu dan menyeretnya ke dalam sungai.

"Saya mendengar suara teriakan anak saya, lalu saya langsung menuju ke sungai, dan kemudian berenang untuk selamatkan anak saya dari gigitan buaya itu, buayanya kemudian melepaskan anak saya dan langsung kabur," ujar Rasmi (37), ibu Yadi saat ditemui wartawan di Rumah Sakit Nurdin Hamzah, Minggu (8/7/2018)

Kata Rasmi, tujuan anaknya itu ke sungai ingin mengambil air untuk menyiram bunga di sekitar rumah. Saat itu posisi air sungai dalam keadaan naik. Namun ia tak menyangka anaknya itu nyaris jadi santapan buaya.

"Sungai itu memang tak jauh dari rumah, posisi air sungai juga dalam keadaan naik. Jika saya telat tiba menyelamatkan anak saya yang sudah terseret sejauh 15 meter, maka mungkin anak saya sudah menjadi santapan buaya itu," terangnya.

Kini atas kejadian itu, Yadi terpaksa harus dirawat di RS. Ia juga mengalami luka-luka di bagian tubuhnya akibat seretan buaya. Tangan sebelah kirinya juga harus diberikan perawatan intesif karena mengalami luka robek akibat gigitan buaya tersebut.

Sementara itu, Firdaus warga sekitar mengaku jika aliran sungai tersebut memang banyak dijumpai buaya-buaya rawa yang acap kali timbul di sekitaran sungai. Mulai dari anakan hingga buaya dewasa sepanjang 3 meter. Warga juga tak banyak berani berbuat karena buaya itu merupakan buaya yang dilindungi UU. Populasi buaya di kawasan itu juga diduga sangat berkembang biak cepat.

Hanya saja, warga berharap agar pemerintah dapat menanggapi serius permasalahan konflik manusia dan buaya ini karena ini sudah sangat meresahkan masyarakat di sekitar sana. Apalagi, penduduk di sekitar masih banyak beraktifitas di sungai.

"Kalau kita bunuh buayanya kita salah, karena buaya itu dilindungi undang-undang. Tetapi buaya rawa ini sudah sangat meresahkan. Saya hanya berharap pemerintah melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dapat bertindak cepat untuk mengevakuasi buaya-buaya rawa itu kepenangkaran yang lebih aman dan jauh dari permukiman masyarakat, agar tidak ada lagi korban," harap Firdaus.

(asp/asp)