Pinjam Buku Soal Bom Bunuh Diri, Mahasiswa Diinterogasi
Selasa, 26 Jul 2005 16:32 WIB
Jakarta - Mau bikin penelitian soal terorisme? Hati-hati kalau beli atau pinjam buku soal ini. Bisa-bisa Anda malah dikira 'calon teroris'.Maraknya peristiwa ledakan bom di London dan Mesir telah membawa nasib apes pada seorang mahasiswa di sebuah universitas di Melbourne, Australia.Mualaf bernama Abraham ini sedang menempuh studi untuk mendapatkan gelar doktoral. Dia tertarik untuk melakukan penelitian tentang peranan Islam dalam kesyahidan.Untuk mendukung penelitiannya, dicarilah berbagai buku pendukung. Perpustakaan Universitas Monash pun jadi sasarannya.Begitu menemukan buku tentang terorisme dan bom bunuh diri, Abraham pun berminat untuk meminjamnya. Tak dinyana, gerak-gerik Abraham rupanya sudah diamati Polisi Federal Australia (AFP). Dia pun diinterogasi polisi.Kesal bukan kepalang. Begitulah yang dirasakan Abraham. Dia merasa telah dijadikan target oleh polisi. Dia juga menuding polisi bersikap tidak adil karena mengaitkan nama muslimnya dengan topik buku yang dipinjamnya."Yang pasti, mereka memiliki akses terhadap daftar buku yang saya pinjam. Saya tidak tahu jika telepon saya disadap. Saya tidak tahu kalau mereka mengamati gerak-gerik saya," cetusnya jengkel seperti diberitakan ABC News Online, Selasa (26/7/2005)."Mereka menggambarkan kaitan antara seseorang dengan nama non-Inggris dan mengatakan, oke aktivitasnya mencurigakan," duga Abraham.Ditegaskan dia, ada lusinan mahasiswa yang mempelajari subjek serupa. Namun hanya dirinya yang diinterogasi.Kisah Abraham cukup menyentak Presiden Liberty Victoria, Brian Walters SC. Dia berpendapat AFP berutang maaf kepada Abraham."Ini benar-benar serius. AFP telah merusak independensi akademik yang seharusnya bebas dan demokratis," tegas Walters.Dia mendesak pemerintah federal untuk mencabut undang-undang terorisme dan mengambil langkah pendekatan lebih kalem untuk melindungi masyarakat Australia.Dosen Abraham, Dr David Wright-Neville, memberitahu mahasiswa lainnya agar berhati-hati jika ingin mempelajari subjek terorisme."Mereka harus lebih waspada berdasarkan pengalaman yang dialami Abraham. Mereka bisa saja dijadikan target juga," sesal Wright-Neville.Ditegaskannya, mahasiswa punya hak melakukan apa pun terkait studinya tanpa diamati polisi. Jika ada komunitas kampus yang mengetahui ada risiko teroris, barulah polisi akan diberitahu.
(sss/)











































