Dana Kompensasi Ternak Positif Flu Burung Sudah Cair
Selasa, 26 Jul 2005 12:54 WIB
Jakarta - Sejumlah ternak babi dan itik di Kabupaten Tangerang yang terjangkit flu burung sudah dimusnahkan. Para peternak pemilik ternak-ternak yang dimusnahkan itu tidak perlu berlama-lama menunggu dana kompensasinya. Sebab, dana kompensasi untuk mereka sudah cair. Asyiik!Dana kompensasi untuk ternak-ternak yang dimusnahkan pada Minggu (24/7/2005) lalu itu telah cair pukul 10.00 WIB, Selasa (26/7/2005). "Saat ini yang sudah dicairkan sebesar Rp 34.870.000," kata Dirjen Peternakan Departemen Pertanian (Deptan) Mathur Riady kepada wartawan di Kantor Deptan, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (26/7/2005). Dana Rp 34.870.000 itu akan digunakan untuk membayar biaya kompensasi atas 32 babi dan 112 itik yang dimusnahkan. Ternak babi yang dimusnahkan terdiri dari 20 babi dewasa dan 12 babi anak. Untuk kompensasi babi dewasa, setiap per kg berat hidupnya dihargai Rp 7.500, sedang babi anak per kg berat hidupnya dihargai Rp 7.000. Dana kompensasi untuk itik dibedakan menjadi dua kategori. Pertama, itik yang sedang berproduksi dihargai Rp 40 ribu/ekor. Kedua, itik yang belum berproduksi dihargai Rp 20 ribu/ekor. Saat ditanya mengenai adanya peternak yang menyembunyikan dan melarikan hewan ternaknya sesaat sebelum pemusnahan itu dilakukan, Mathur menyatakan, berdasarkan UU, para peternak itu bisa diberi sanksi. "Sanksi berupa sanksi perdata. Saya tidak terlalu tahu pasti. Tapi, sepertinya dendanya sangat kecil," kata dia. Untuk meneliti masih adanya hewan ternak yang terjangkit flu burung yang belum dimusnahkan, Deptan terus melakukan pengamatan di beberapa tempat di sekitar lokasi pemusnahan Minggu (24/7/2005) lalu. "Hal ini ditujukan untuk mencegah berkembangnya virus-virus dari flu burung," ujar dia. Saat ini, kata Mathur, Deptan juga sedang meninjau kembali sistem mixed farming (peternakan campuran) yang dilakukan warga. Mixed farming ini merupakan sistem beternak yang menyatukan lebih dari dua jenis hewan ternak di lokasi peternakan. Misalnya, antara ternak itik dengan babi. "Peninjauan ini untuk mengetahui apakah dengan proses mixed farming, perputaran rantai virus masih tetap terjadi atau tidak. Jika terjadi, maka akan dilakukan tindakan lanjutan," tegas dia.
(asy/)











































