Mabes TNI AD Surati Kesdam Se-Indonesia Soal Flu Burung

Mabes TNI AD Surati Kesdam Se-Indonesia Soal Flu Burung

- detikNews
Selasa, 26 Jul 2005 12:13 WIB
Jakarta - Wabah flu burung kini bak momok. Buktinya, Mabes TNI AD menyurati seluruh Direktorat Kesehatan Kodam (Kesdam) se-Indonesia untuk mewaspadai flu burung."Ini langkah untuk mewaspadai penularan," ujar Direktur Kesehatan TNI AD Brigjen Heridadi usai perayaan HUT ke-55 RSPAD Gatot Soebroto di Kompleks RSPAD, Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta, Selasa (26/7/2005).Namun sejauh ini belum ada laporan prajurit TNI yang terkena flu burung. "Lagi pula prajurit tidak banyak bergaul dengan unggas. Dan ini sudah merupakan langkah yang cukup," tandas dia. Kasus flu burung mencuat setelah adanya kematian auditor BPK Iwan Siswara Rapei dan dua putrinya beberapa waktu lalu. Ketiganya dinyatakan positif terkena flu burung. Akibatnya, sejumlah ternak unggas termasuk babi di Tangerang dibakar karena diduga terjangkit virus flu burung.Modernisasi Pengobatan MalariaMengenai penyakit malaria, Mabes TNI AD melakukan terobosan baru, yakni modernisasi pengobatan. Sebab, penyakit malaria adalah penyakit yang paling sering diderita prajurit di wilayah konflik. Obat-obatan juga sudah dikirimkan ke Kodam Iskandar Muda dan Kodam Trikora dalam skala massal. "Obat ini digunakan bukan unuk pencegahan melainkan pengobatan," rinci Heridadi. Sedangkan untuk pencegahan, pihaknya berusaha untuk meningkatkan pola hidup prajurit yang lebih baik. "Pencegahan dilakukan dengan metode mencelup pakaian atau kelambu ke cairan yang tidak disukai nyamuk atau mengoleskan obat rivelen," jelasnya.Kepala RSPAD Brigjen Mardjo Subiandono menambahkan, pihaknya telah memberikan pencegahan penyakit malaria terhadap prajurit berupa dua tablet, yakni klorofin dan fansigar. Obat tersebut diberikan satu minggu sebelum berangkat dan dua minggu setelah prajurit tersebut pulang dari tugas."Meski terkadang banyak prajurit lupa meminum obat atau pun resisten darahnya. Untuk itu kami menggunakan artemicin dari Cina yang daya pengobatannya 100 persen," kata Mardjo. (ton/)


Berita Terkait