"Singkat cerita, saya ingin katakan kalau tadi ada yang muja-muji sebenarnya begini problemnya, problem kita dengan pemerintah sekarang karena skala dari negara yang dia nggak paham. Harusnya yang mampu dilakukan presiden itu skalanya harus agak ditingkatkan menjadi mengurus negara, bukan menjadi pintu proyek, bukan jadi penggunting pita, atau pintu pengadaan," kata Fahri dalam sambutannya di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).
Dikatakannya, para petinggi negara harus datang ke PP Muhammadiyah untuk mendapatkan pencerahan dan dikatakannya tugas Muhammadiyah memberikan masukan-masukan itu. Selain itu, dalam sambutannya, Fahri membahas sejarah kemerdekaan bangsa serta campur tangan orang-orang dari Muhammadiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Amien Rais: Jokowinomics Gagal |
"Kalau kita bicara forum Muhammadiyah ini levelnya percakapan para komisaris karena salah satu pendiri bangsa kita adalah Muhammadiyah, bahkan menjelang proklamasi Bung Karno pindah ke Bengkulu atau diisolasi ke Bengkulu, diterima dengan Ketua Konsul Muhammadiyah Sumatera dan bertemu Ibu Fatma, yang ditugaskan sebagai guru privat oleh Bu Fatma," imbuhnya.
Dia mengatakan saat itu Bung Karno menikah dengan Fatmawati dan Fatmawati-lah yang menjahit bendera Merah-Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Ia mengatakan Bung Karno dan Fatmawati adalah salah satu tokoh bangsa dari kalangan Muhammadiyah.
"Artinya, Ibu Fatma anak dari konsul Muhammadiyah Bengkulu, artinya santri Muhammadiyah. Bung Karno ngajar agama di Bengkulu. Malam proklamasi, Ibu Fatma menjahit bendera Merah-Putih kita yang akan dikibarkan 17 Agustus, artinya yang menjahit santri Muhammadiyah, proklamasinya dibaca guru Muhammadiyah, makanya saya katakan forum ini forum komisaris, forum pendiri bangsa," kata Fahri.
Ia menambahkan tugas Muhammadiyah ke depan adalah mengingatkan para petinggi negeri ini. Dikatakannya, Muhammadiyah mempunyai sejarah untuk mengingatkan para petinggi negeri.
"Makanya di komisaris kalau banyak yang jewer dirut memang itu tugasnya. Tadi di sini Pak Zul mohon maaf tadi Ketum MPR sudah ngomong tapi ini komisaris negara, tapi pendirinya ada di sini semua. Jadi kalau jeweran Pak Zul lebih kuat dari yang lain ya itu tugasnya komisaris. Setiap direksinya ada masalah kita jewer keras-keras dan Muhammadiyah punya tugas sejarah untuk jewer terus-menerus," kata Fahri. (dnu/dnu)
