Penjualan Daging Ayam Turun tapi Harga Telor Naik di DKI
Senin, 25 Jul 2005 21:12 WIB
Jakarta - Menyebarnya penyakit flu burung di Indonesia, membuat penjualan daging ayam menurun drastis di Kota Jakarta. Meski demikian, penyebaran penyakit yang telah merenggut korban jiwa ini tidak mempengaruhi harga telur ayam di Ibukota.Demikian hasil pengamatan detikcom di dua pasar tradisional di Jakarta, yakni Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Pasca pemusnahan ratusan babi dan itik yang terkena flu burung kemarin, penjualan ayam potong memang rendah di beberapa wilayah di DKI.Di Pasar Minggu, sejumlah pedagang mengeluhkan minimnya pembeli daging ayam potong akhir-akhir ini. Menurut seorang pedagang bernama Rudin (27), sampai pukul 14.00 WIB ayam potong yang dijualnya masih tersisa setengah dari 30 ekor yang ia bawa."Biasanya saya dagang dari pukul 05.00 WIB dan pukul 10.00 WIB pasti sudah habis. Tapi dua minggu terakhir ini, sampai jam segini malah belum habis," ujar Rudin.Penuturan senada disampaikan Gunawan (29), yang sudah satu tahun berjualan ayam di Pasar Minggu. Ia mengaku omset penjualannya turun hingga 50 persen. "Sejak ada isu wabah flu burung, dagangan saya kurang laku mas. Laku setengah saja sudah lumayan," katanya.Kedua pedagang kecil itu setiap hari mengambil sekitar 30 ekor ayam dari pedagang besar dengan harga Rp 10.000 per kg dan dijual kembali Rp 13.000. Menurut mereka, sejak ada wabah flu burung, masyarakat menjadi lebih selektif dalam membeli ayam."Mereka lebih cerewet mas, apalagi ibu-ibu. Mereka selalu bertanya ini ayam sakit atau bukan, sudah begitu tidak jadi beli lagi. Saya bilang saja kalau saya juga makan ayam ini dan kalau memang ayamnya sakit pasti saya sudah mati dong," keluh Rudin.Hal yang sama terjadi di Pasar Kramat Jati. Dua orang pedagang ayam potong, Udin (23) dan Joni (26) mengaku penjualannya menurun sejak menyebarnya wabah flu burung."Tapi karena Pasar Kramat Jati sebagian besar hanya menjual sayur dan buah-buahan, penurunan omset tidak terlalu mencolok," kata Joni kepada detikcom.Sementara itu, meski penjualan daging ayam potong menurun, wabah flu burung tidak membuat penjualan telur ayam juga menurun. Bahkan, harga telur ayam semakin mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir."Wah mas saya saja bingung, harganya berubah terus dari pemasoknya. Minggu kemarin saya masih menjual Rp 7.500 per kg tapi sekarang sudah Rp 9.000 per kg," ujar Tarmudji (40), bandar telur ayam yang sudah berjualan selama 25 tahun di pasar minggu.Menurut Tarmudji, meski kenaikan harga tidak drastis namun hal itu sangat mempengaruhi pemasukannya. Tapi Tarmudji menolak jika peningkatan harga telur terkait langsung dengan wabah flu burung."Naiknya harga telor karena pasokan dari Jawa berkurang. Selain itu, permintaan masyarakat yang tinggi karena sekarang sedang musim acara kawinan," kata bapak tiga anak itu.
(fab/)











































