Sempat Diduga Flu Burung, Kakak Beradik Meninggal karena DBD
Senin, 25 Jul 2005 14:34 WIB
Bandung - Kasus meninggalnya kakak beradik di Bandung hampir mirip meninggalnya Sabrina dan Thalita, kakak beradik anak Iwan Siswara yang meninggal karena flu burung. Namun, RS Immanuel memastikan kakak beradik di Bandung itu meninggal karena demam berdarah dengue (DBD), bukan flu burung.Kedua kakak beradik ini bernama Rafi Maudi Naufal (9) dan Tsaqif Amar Naufal (4). Kedua putra Yudi Maulana ini meninggal dunia hanya berselang dua hari hari. Rafi meninggal dan dimakamkan pada Jumat, 22 Juli 2005. Sedangkan Tsaqif meninggal dunia pada Minggu malam, 24 Juli 2005 dan dimakamkan hari ini, Senin (25/7/2005). Sungguh memilukan, apalagi bagi keluarga Yudi Maulana. Karena tidak berselang dalam waktu lama, kasus meninggalnya Rafi dan Maudi itu sempat disebut-sebut kemungkinan terkena flu burung. Menurut Yudi, kedua anaknya itu meninggal dunia saat dirawat di RS Immanuel. "Anak pertama saya mulai panas setelah pulang dari saudaranya. Panasnya tidak turun-turun hingga mencapai 40 derajat Celcius," ungkap Yudi Maulana, saat ditemui detikcom di rumahnya, di RT 02/16 nomor 52 Kelurahan Karanganyar, Astanaanyar, Bandung, Senin (25/7/2005). Karena itu, hari Senin, 18 Juli 2005 lalu, Yudi membawa Rafi ke RS Immanuel. Sebelumnya, Yudi sempat membawa Rafi ke dokter langganannya. Namun, dokter tersebut tidak menjelaskan bahwa anaknya menderita DBD. Yudi pun tidak curiga bahwa anaknya menderita DBD, apalagi di kulit anaknya tidak timbul bintik-bintik merah. Namun, setelah dibawa ke RS Immanuel, diketahui bahwa Rafi menderita DBD. Trombositnya menurun drastis hingga 2.010. Akhirnya, pada Jumat, 22 Juli 2005, nyawa Rafi tidak tertolong lagi. Yudi dan istrinya pun sedih. Yudi mengaku sedih atas kepergian anak sulungnya itu. Apalagi, seharusnya Rafi sudah mulai masuk sekolah pertamanya di kelas IV SD. Setelah Rafi dimakamkan, keluarga Yudi juga masih tertimpa musibah. Anak keduanya, Tsaqif tiba-tiba juga mengalami panas yang hebat. Tidak mau kejadian Rafi terulang, Yudi segera membawa Tsaqif ke RS Immanuel pada hari Sabtu, 23 Juli 2005. Setelah didiagnosis, Tsaqif pun akhirnya masuk ke UGD. Minggu malam, 24 Juli 2005, Tsaqif mengalami kritis dan tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Oleh RS Immanuel, Tsaqif dipastikan menderita DBD. Seusai pemakaman Tsaqif, suasana duka masih menyelimuti kediaman Yudi Maluana. Ibunda Rafi dan Tsaqif masih I>shock dan terus menangis. Saudara dan kerabat juga masih menghibur Yudi dan istrinya itu. Yudi tidak mengira kedua anaknya pergi secepat itu. Dinkes Cek Kematian Rafi-TSaqif Tapi, apakah benar Rafi dan Tsaqif meninggal karena penyakit DBD? Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung tampaknya juga tidak sepenuhnya percaya. Dinkes perlu waspada, jangan-jangan memang ada penyakit flu burung atau penyakit lainnya. Karena itu, Senin (25/7/2005), petugas Dinkes Kota Bandung mendatangi rumah Yudi untuk memeriksa kesehatan keluarganya. Catatan medis Rafi dan Tsaqif juga dikumpulkan. Rencananya, Yudi juga akan diperiksa darahnya. "Tadi petugas bilang, saya juga akan dicek darahnya. Tapi, saya gak tahu kapan. Sekarang saja, saya sudah merasa panas dingin," kata Yudi yang masih berduka ini. Menurut Yudi, bila memang kedua anaknya terjangkit DBD, memang agak mengejutkan juga. Sebab, di kawasan tempat tinggalnya, tidak ada anak yang terkena DBD. Namun, di dekat rumah tinggalnya juga tidak ada peternakan unggas yang terkena flu burung.
(asy/)











































