Denny JA: JK-AHY Bakal Bikin Pilpres Ramai

Elza Astari Retaduari - detikNews
Senin, 02 Jul 2018 11:53 WIB
JK saat bertemu dengan AHY. (Dok Istimewa)
Jakarta - Duet Jusuf Kalla-Agus Harimurti Yudhoyono (JK-AHY) diprediksi akan kalah di Pilpres 2019. Namun, bila wacana Partai Demokrat (PD) ini terwujud, pasangan tersebut diprediksi akan meramaikan pesta demokrasi tahun depan.

"Kita belum bisa memastikan apakah benar JK-AHY maju dan partainya mana pula karena Demokrat masih butuh dukungan partai lain. Namun kita bisa memberikan gambaran jika pasangan, maka pertarungan akan ramai," ungkap pengamat politik Denny JA dalam perbincangan, Senin (2/7/2018).

Duet JK-AHY memang diwacanakan Demokrat, yang ingin ada poros ketiga di Pilpres 2019. Partai pimpinan Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu ingin ada capres alternatif selain Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto.


Hanya, Demokrat masih terhambat masalah ambang batas capres atau presidential threshold (PT) untuk bisa mengusung pasangan calon. Demokrat harus bisa berkoalisi dengan partai lain.

"Jadi per hari ini memang bersandar pada aturan PT yang sekarang tidak berubah yang mungkin adalah 3 poros. Poros Jokowi sudah jelas, poros kedua atau ketiganya belum jelas," kata Denny.

"Jika nanti memang JK dan AHY itu menjadi satu poros melawan Jokowi dan wapresnya dan sangat mungkin ada poros lainnya, yaitu apakah Prabowo dan wapresnya. Maka siapa yang menang sangat ditentukan oleh tiga hal," imbuh founder LSI Denny JA itu.

Menurutnya, isu soal keinginan masyarakat adanya perubahan penguasa menjadi faktor pertama. Ini dinilai Denny akan menguntungkan calon-calon selain petahana, termasuk JK, Prabowo, dan Gatot Nurmantyo, yang masuk bursa Pilpres 2019.

Denny JA: JK-AHY Bakal Bikin Pilpres RamaiPoster JK-AHY. (Dok Demokrat)

"Kedua, ditentukan lagi oleh kondisi ekonomi. Sekarang ini dolar sudah naik ke Rp 14 ribu lebih, tapi seberapa besar efeknya kenakan dolar terhadap harga-harga. BBM non-subsidi sudah naik, makin problem buat petahana," imbuhnya.

Meski begitu, bukan berarti JK tak punya modal dasar bila ingin maju sebagai capres. Kantong-kantong suara dianggap juga bisa diperhitungkan.

"Jika JK maju, JK diuntungkan dengan kantong suara di Indonesia timur karena, dibandingkan Jokowi, Gatot, Prabowo, cuma JK yang punya representasi di Indonesia timur dan juga sentimen agama yang masih punya pengaruh," sebut Denny.


"Dari Jabar dan Jateng itu bahkan 10 hari itu bisa memberikan perubahan yang luar biasa. Jika 10 hari saja bisa menimbulkan perubahan, apalagi masih berbulan-bulan seperti sekarang," tambah dia.

Sebelumnya diberitakan, JK-AHY diprediksi akan kalah bila maju di Pilpres 2019. Nasib JK-AHY diramalkan akan seperti JK-Wiranto, yang kalah di Pilpres 2009.

"Kalau kita bercermin dari pengalaman 2009 agak berat ya. Pak JK kalau disurvei presiden, angkanya relatif. Nah AHY ini sebagai calon wakil presiden memang di survei itu 3 besar, tapi belum jadi calon wakil yang bisa mendongkrak suara. Untuk sementara, kalau itu maju, akan seperti JK-Wiranto di 2009," papar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, Senin (2/7). (elz/tor)