detikNews
Minggu 01 Juli 2018, 13:25 WIB

Merah Putih Raksasa di Pasar Apung, Catatkan Rekor Dunia

Raden Fadli Sumawilaga - detikNews
Merah Putih Raksasa di Pasar Apung, Catatkan Rekor Dunia Foto: Raden Fadli/detikcom
Banjarmasin - Ada yang menarik dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke 72 kali ini di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebuah konfigurasi jukung (perahu dayung) yang dihadirkan Polda Kalsel, berhasil dicatat sebagai rekor MURI baru dalam perayaannya.

Rekor tersebut adalah konfigurasi jukung terbanyak di Pasar Terapung Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, dan tercatat sebagai rekor dunia. Bagaimana tidak, terdapat hingga 338 buah jukung yang di dayung oleh para acil (bibi) pedagang pasar terapung, dan membentuk sebuah formasi Merah Putih raksasa.

Merah Putih Raksasa di Pasar Apung, Catatkan Rekor Dunia Foto: detikcom

Wakil Direktur Museum Rekor Indonesia (MURI), Osmar Semesta Susilo, mengungkapkan bahwa kegiatan konfigurasi jukung ini belum pernah tercatat sebelumnya di MURI atau Rekor Dunia-Indonesia.

"Konfigurasi jukung sebanyak ini merupakan hal pertama yang terlaksana di Kalimantan Selatan," ujar Osmar di Menara Pandang Banjarmasin, Minggu (1/7/2018).


Osmar pun menambahkan, konfigurasi jukung terbanyak ini juga merupakan yang pertama di dunia. Sehingga penghargaan yang diberikan MURI ini juga tercatat sebagai rekor dunia.

"Yang menjadi ciri khas dari kota Banjarmasin ini adalah perahu Jukung. Dan konfigurasi ini sebagai bukti kepedulian kami kepada budaya di Banjarmasin," kata Kapolda Kalsel, Brigjen Rachmat Mulyana yang menerima penghargaan tersebut.

Ia menambahkan, kegiatan ini kemudian di respon MURI karena merupakan hal pertama yang terlaksana di Kalimantan, dimana jukung dapat terkumpul begitu banyak dan dibentuk formasi Merah Putih.

Bentuk Merah Putih Raksasa di Sungai, 338 'Acil' Catatkan Rekor MURIFoto: Raden Fadli/detikcom

Salah satu 'acil' pedagang pasar terapung, Marni, mengungkapkan proses latihan dalam mempersiapkan konfigurasi ini terbilang singkat.

"Waktu persiapannya cuma tiga hari. Mulai dari ngumpulin acil-acil lain sampai pahamin formasi. Kita latihan pagi sama sore, karena siangnya kita harus jualan," ungkap Marni.

Lain halnya dengan Imas, ia mengatakan beberapa kesulitan dalam proses persiapan hingga pelaksanaan konfigurasi jukung.


"Susahnya nyatuin pikiran, Mas. Ada yang sibuk kondangan jadi anggotanya gak lengkap pas latihan, atau gara-gara ikutan temannya yang gak jadi gabung," kata Imas.

Dia menambahkan, kondisi air sungai juga menjadi penentu tingkat kesulitan dalam mempertahankan formasi.

"Kalau air (sungai) kelihatan tenang, itu artinya arus agak kuat. Kita harus bisa tahan jukung supaya formasi tidak berantakan karena terbawa arus," tambahnya.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed