Pro Kontra Pemusnahan Babi Milik Warga Babad, Tangerang
Minggu, 24 Jul 2005 21:28 WIB
Jakarta - Seperti politisi, pendapat pro dan kontra pun timbul dari warga yang tinggal di sekitar lokasi pemusnahan hewan yang terkena flu burung. Tetapi, memelihara babi sudah menjadi tradisi warga Babad, Tangerang. "Saya sih setuju saja dengan pemusnahan, asalkan itu sudah positif flu burung" kata salah satu warga bernama Endang (27), di Desa Babad, Kecamatan Legok, Tangerang kepada detikcom, Minggu (24/7/2005).Ayah satu anak ini menjelaskan, di desa babad ini ada satu blok warga yang semuanya etnis Tionghoa. Tidak semuanya beternak babi, tapi mereka memelihara secara perorangan. "Mereka memelihara babi sudah turun-temurun" urai Endang. Lebih lanjut pria yang lahir dan besar di kampung itu meyatakan, selama ada isu flu burung, dirinya juga merasa khawatir. Namun, ia tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi rasa khawatirnya. Lain Endang lain pula Hana. Ibu dua anak ini mempertanyakan, apakah semua hewan tersebut benar-benar sudah positif flu burung atau tidak. "kan kasihankalau ternyata hewan itu tidak kena flu burung. lagian kan mubazir." ujar Hana.Ketika dijelaskan bahwa hewan-hewan tersebut sudah positif flu burung, Hana pun akhirnya setuju atas langkah pemerintah tersebut. "Wah kalau begitu saya setuju sekali, daripada jadi sumber penyakit lebih baik dimusnahkan," sergap Hana bersemangat. Pengamatan detikcom di lokasi, beberapa ekor babi dibiarkan bebas berkeliaran di halaman dan jalan. Babi yang kotor dan bau tersebut tidak dimasukkan kandang. Bau kotoran babi yang berasal dari kandang pun bisa tercium dari jarak 10 meter.
(ism/)











































