Kala Petahana Tak Mampu Juara di Pilkada 

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 29 Jun 2018 17:12 WIB
Ilustrasi petahana gagal di Pilkada 2018 (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Kediaman Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di kompleks perumahan The Gayungsari, Surabaya, Jawa Timur, terlihat sepi sepanjang Kamis (28/6/2018) kemarin. Hanya ada beberapa remaja pria di teras rumah. Sebagian ada yang berbincang-bincang di bawah tenda di halaman rumah.

Siang hari, Gus Ipul sempat memimpin rapat dengan tim pemenangannya. Selepas itu, dia naik ke lantai 2 untuk beristirahat. Baru setelah salat Magrib dia keluar dari kamar menyapa tetamu. Dia mengucapkan terima kasih atas dukungan yang sudah diberikan.

"Saya terima kasih meski suara belum cukup, tapi kita sudah berjuang," kata calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 2 itu. Selain cagub, Gus Ipul saat ini masih tercatat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur.

Dalam sejumlah hitung cepat pemilihan kepala daerah, suara Gus Ipul, yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno, kalah oleh Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak. Hasil hitung cepat seperti dikutip dari infopemilu.kpu.go.id hingga pukul 14.13 WIB, Jumat, 29 Juni 2018, perolehan suaranya 46,27% (8.618.008 suara) dan Khofifah-Emil 53,73% (10.008.378 suara).

Di Jawa Timur, Gus Ipul, yang merupakan kandidat petahana, kalah dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Nasib serupa dialami cagub petahana Lampung, Muhammad Rido Ficardo, yang berpasangan dengan Bachtiar Basri. Dari hitung cepat KPU, pasangan ini cuma meraih 25,25 persen (1.015.218).

Cagub petahana Maluku Said Assegaf juga gagal dalam pilkada. Said, yang berpasangan dengan Anderias Rentaubun, kalah oleh pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno. Dari hitung cepat KPU, duet Said-Anderias mendapatkan 30,74 persen (188.912 suara), sementara Murad-Barnabas 39,96% (245.560 suara).

Di Papua, cagub petahana Lukas Enembe, yang berpasangan dengan Klemen Tinal, juga gagal mempertahankan kekuasaan. Pasangan ini kalah oleh duet Jhon Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae. Dalam hitung cepat KPU, pasangan Lukas-Klemen mendapat 46,58% (164.632 suara), dan Jhon Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae memperoleh 53,42% (188.840).

Nasib serupa dialami Deddy Mizwar, Wagub Jabar yang maju pada Pilgub Jabar berpasangan dengan Dedi Mulyadi. Deddy-Dedi kalah oleh pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Selain itu, ada enam wakil gubernur, yakni di Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, NTT, dan NTB, yang gagal melanjutkan periode kepemimpinannya.

"Data ini ingin mengkonfirmasi bahwa gubernur dan wakil gubernur petahana tidak ada jaminan dapat melanjutkan kepemimpinannya dengan mudah," kata Direktur Pusat Kajian Politik FISIP UI Aditya Perdana dalam keterangan tertulis, Jumat (29/6/2018).

Menurut dia, salah satu faktor penyebab petahana gagal dalam pilkada adalah persoalan kinerja selama menjabat yang belum tentu disukai oleh pemilih. Namun petahana yang menang dalam Pilkada Serentak 2018 juga mengalami hal yang tak mudah.

Di Jawa Tengah, misalnya, Ganjar Pranowo, yang diramal oleh sejumlah lembaga survei bakal mendapatkan 70 persen suara, hanya memperoleh sekitar 55 persen pemilih.

"Artinya, pemilih kita saat ini sudah memiliki informasi yang cukup memadai sehingga dengan mudah dapat menjatuhkan pilihannya untuk memberikan 'hukuman' atau 'reward' kepada para petahana yang bertarung," kata Aditya.



(erd/jat)