Mobil Karyawan Ditembak, Ketum SP JICT: Ini Teror!

Eva Savitri - detikNews
Kamis, 28 Jun 2018 17:35 WIB
Ketum SP JICT Hazris (Eva Savitri/detikcom)
Jakarta - Ketua Umum Serikat Pekerja JICT Hazris Malsyah menyebut peristiwa penembakan mobil terhadap anggotanya, Sugiyanto, merupakan bentuk teror. Sebelum kejadian ini, dua anggota Serikat Pekerja juga pernah mengalami perusakan mobil.

"Oh, teror ini kalau kayak begini. Karena kalau boleh saya katakan, kan ini bukan sekali kejadiannya, sudah kali ketiga yang ini," kata Hazris saat ditemui wartawan di kawasan PT JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (28/6/2018).

Peristiwa tersebut, disebut Hazris, terjadi dalam kurun waktu 2015-2018. Sebelum penembakan mobil Sugiyanto, mantan anggota SP JICT Robertus Sirait juga pernah dirusak mobilnya ketika sedang diparkir di lokasi yang sama.

"Kemudian yang kedua mantan Ketua Umum Pak Nova Sofyan Hakim dan yang ketiga ini Pak Sugianto nih dengan penembakan ini," katanya.


Hazris tidak bisa memastikan teror ini berkaitan dengan aktivitas para anggota Serikat Pekerja. Namun rentetan kejadian ini berlangsung di tengah Serikat Pekerja tengah memperjuangkan masalah konsesi JICT.

"Karena selama ini kita kan di SP JICT ini kan masih tetap memperjuangkan masalah penolakan konsesi. Sudah dua tahun ke belakang ini kita selalu menyuarakan masalah penolakan perpanjangan konsesi karena kita lihat perpanjangan konsesi ini melanggar hukum dan kerugian negara Rp 4,8 triliun. Nah, saya nggak tahu apakah ini ada kaitannya atau nggak, nanti biar pihak kepolisian yang mengusut," paparnya.

"Memang kurun waktunya berbeda. Cuma permasalahannya kan seperti yang saya bilang tadi, kita kan mulai menyuarakan konsesi kan sejak 2015 sampai tahun 2018 ini kan masih terus, nih. (Kejadian) yang pertama antara 2015/2016 itu saat kita lagi kencang-kencangnya menyuarakan itu penolakan konsesi," tambahnya.

Ia menyayangkan sikap manajemen JICT yang terkesan kurang peduli terhadap kasus ini. JICT, kata dia, tidak memasang CCTV, padahal kejadian tersebut sudah ketiga kalinya. Ia pun meminta manajemen bertanggung jawab terhadap keselamatan para karyawan.


"Seharusnya kan pada saat waktu kejadian yang pertama dan kedua ada tindakan preventif yang dilakukan manajemen, karena pada saat itu kan tidak ada CCTV segala macam, kan seharusnya diadakan, sampai sekarang terjadi lagi. Manajemen ini harus ada yang bertanggung jawab. Dari manajemen ini, terutama direktur HRD dan manajer sekuritinya, itu harus bertanggung jawab, termasuk dengan vendor-vendornya," sambungnya.

Hazris meminta polisi mengungkap kasus itu sesegera mungkin. Ia juga berharap polisi dapat mengungkap motif teror tersebut.

"Kami dari Serikat Pekerja mendorong pihak kepolisian mengusut kasus ini tuntas," tandasnya.

(mei/mei)