Kekalahan PDIP, Antara Politik Dinasti dan Skandal Korupsi

Sudrajat - detikNews
Kamis, 28 Jun 2018 14:51 WIB
Lima dari 11 jago PDIP yang kalah di pilkada (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Hasil hitung cepat atas pilkada serentak, 27 Juni 2018, memperlihatkan 11 dari 17 calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan kalah. Beberapa calon yang diusung PDIP baru diumumkan beberapa saat sebelum batas akhir pendaftaran (injury time), selain faktor ketokohan dan salah penempatan wilayah, yang ikut andil.

Selain itu, dari pengamatan detikcom, para jago PDIP kalah di pilkada kali ini mungkin karena sentimen politik dinasti. Juga skandal korupsi yang menerpa sang kandidat. Sebagai contoh Karolin Margret Natasa di Kalimantan Barat. Saat mengumumkan namanya, Megawati menyebut sederet prestasi putri Gubernur Barat saat ini, Cornelis. Dia cantik, berpendidikan dokter, dan terpilih sebagai Bupati Landak pada Maret 2017 dengan perolehan suara 96,62 persen.

Tapi sepekan menjelang hari pencoblosan, LSI Denny JA merilis hasil mengejutkan. Posisi Karolin sebagai putra Cornelis, yang telah dua periode memimpin Kalbar, justru menjadi titik lemah. Ada resistensi publik terhadap politik dinasti.Dari catatan detikcom, saat duduk sebagai anggota DPR di Senayan pada 2014, perolehan suaranya pun lumayan gemilang, 397.481. Jumlah ini lebih banyak dengan perolehan suara Puan Maharani (369.927) atau Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) dari Demokrat di Dapil Jawa Timur, 243.747 suara.

"Sebesar 51 persen publik Kalimantan Barat menyatakan majunya Karolin Margret Natasa sebagai gubernur dinilai kurang pantas/tidak pantas sama sekali, karena dianggap sebagai upaya petahana (Cornelis) melanggengkan kekuasaannya melalui keluarga," papar Adjie Alfaraby, peneliti LSI Denny JA.

Pasangan dinasti politik juga terjadi di Sumatera Selatan, dan kalah. Giri Ramanda Kiemas, keponakan Megawati, yang dipasangkan dengan Dodi Reza Alex, anak Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Giri sebagai calon wakil gubernur dan Dodi sebagai calon gubernur. Keduanya tergolong anak muda dan merintis karier politik dari bawah. Dodi malah sempat mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, Belgia.

Meski begitu, justru soal prestasi dan politik dinasti itulah yang antara lain dimainkan oleh Herman Daru. Saat kampanye dialogis di Palembang, 15 Februari, dia mengaku pernah dilabrak Alex Noerdin. Dia dituding suka mengolok Doli, yang banyak menerima penghargaan meski baru delapan bulan menjabat Bupati Musi Banyuasin.

Tak jelas benar apakah kampanye antipolitik dinasti itu berhasil. Nyatanya, hasil hitung cepat LSI Denny JA memperlihatkan pasangan ini cuma meraup 32,10 persen suara, sedangkan Herman Deru-Mawardi Yahya mendapat 35,54 persen suara.

Khusus di NTT, kekalahan Marianus Sae-Emiliana Nomleni memang bisa dimaklumi. Sejak pertengahan Februari lalu KPK menetapkan dia sebagai tersangka kasus suap. Di NTT, duet Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae, yang diusung oleh Partai NasDem, Golkar, Hanura, dan PPP, menurut hasil survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC), unggul 35,62 persen, sedangkan Marianus-Emiliana, yang didukung koalisi PDIP dan PKB, 27,19 persen.

(jat/jat)