"Ketua adalah jantung sebuah lembaga. Itu sebabnya kesalahan memilih ketua acapkali membuat lembaga seperti kehilangan ruh. Kita merasakan gerak KY beberapa waktu tidak terlihat, bahkan kerap tidak hadir dalam hal-hal penting pembenahan lembaga kekuasaan kehakiman," kata Direktor Pusako Universitas Andalas, Feri Amsadi kepada detikcom, Kamis (28/6/2018).
Salah satu parameter kegagalan Aidul yaitu lemahnya hubungan dengan jejaring yang dibangun KY sejak berdiri. Dalam 2,5 tahun ke belakang, KY dinilai malah memutus jejaring yang selama ini membuat KY lebih hidup dan berwibawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kinerja KY juga dinilai gagal menjadi pengawas terhadap MA. Di mana banyak persoalan keadilan yang dihadapi masyarakat tetapi KY tidak memiliki power untuk mengawasi MA.
Feri Amsari (dok.detikcom) |
"Misalnya, jika selama ini diplomasi dengan Mahkamah Agung kerap gagal ataupun menghilangkan taji KY, mungkin ada baiknya lembaga KY diketuai sosok baru tapi berpengalaman memimpin," ujar Feri.
Ketua KY akan dipilih oleh 7 komisionernya. Dari 7 orang itu, Aidul dinilai tidak layak lagi menjadi Ketua untuk setengah periode ke depan. Bila harus memilih, Feri cenderung condong ke Wakil Ketua KY saat ini, Sukma Violetta.
"Sukma mungkin bisa jadi salah satu alternatif mempertajam taji dan kemampuan advokasi KY. Selain berpengalaman dalam bidang advokasi, Sukma merupakan sosok aktivis perempuan yang dapat diterima baik di MA maupun di ruang-ruang politik. Apalagi perlu diberi kesempatan Kartini-kartini baru memimpin lembaga negara kita," pungkas Feri. (asp/ams)












































Feri Amsari (dok.detikcom)