Pilkada 2018 Rasa Pilpres 2019

Elza Astari Retaduari - detikNews
Selasa, 26 Jun 2018 14:18 WIB
Ilustrasi Pilkada Serentak (dok. detikcom)
Jakarta - Pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 yang dilangsungkan esok hari diyakini sebagai pemanasan Pilpres 2019. Pertarungan panas pilkada serentak kali ini diprediksi berdampak hingga pemilihan presiden tahun depan.

"Oh iya, Pilkada Serentak 2018 memang punya makna strategis konstelasi politik menjelang Pilpres 2019," ujar pengamat politik Gun Gun Heryanto dalam perbincangan, Selasa (26/6/2018).

Ada sejumlah hal yang membuat Pilkada Serentak 2018 terasa seperti Pilpres 2019. Setidaknya bisa terlihat dari jumlah pemilih. Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2018 adalah 152.067.680. Jumlahnya, kata Gun Gun, mendekati pemilih pada Pemilu 2019. Diketahui Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pemilu 2019 sekitar 186 juta orang.

"Jumlah pemilih Pilkada 2018 itu 80 persen DPS Pileg-Pilpres 2019. Pilkada Serentak 2018 di 171 daerah diikuti 567-an pasangan calon. Terbesar di antara tiga gelombang pilkada serentak lainnya," ucap Gun Gun.

Baca Juga: Pertemuan SBY-JK Appetizer 'Perang' Pilpres 2019

Menurutnya, Pilkada Serentak 2018 adalah pertandingan awal parpol-parpol dalam 'peperangan' Pilpres 2019. Itulah mengapa pilkada tahun ini akan terasa seperti pilpres yang tahapannya akan segera dimulai seusai perhelatan pilkada.

"Pilkada Serentak 2018 pertarungan pendahuluan parpol-parpol di pilkada. Sebab, dia (parpol) bisa menghitung potensi konstituen mereka. Tapi bukan berarti kemenangan mereka di pilkada jadi kemenangan pileg," sebutnya.

Dari Pilkada Serentak 2018 ini, para parpol akan bisa memastikan infrastruktur pemenangan partai mereka. Terutama untuk daerah-daerah kunci, seperti Jawa, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

"Sehingga mereka bisa memanaskan dan menggerakkan mesin-mesin partai. Partai-partai bisa mengoptimalkan infrastruktur pemenangan partai mereka," tutur Gun Gun.

Baca Juga: Minim Sosialisasi Pilkada ke Penjara di Jabar, Golput Tinggi?

Lewat pilkada kali ini, parpol yang masih 'galau' juga bisa menentukan arah dukungan kepada kandidat pasangan calon. Partai-partai bisa melihat bagaimana dukungan konstituen mereka, kata Gun Gun, terutama di daerah-daerah yang jelas polarisasinya, seperti Jawa Barat.

"Ini bisa jadi polarisasi dukungan pilpres. (Pilkada Serentak 2018) bisa jadi barometer, salah satunya pergerakan partai untuk konsolidasi parpol," kata dia.

Tak aneh bila sejumlah partai yang belum bersikap masih menunggu pilkada rampung sebelum memutuskan arah koalisi pilpres. Mereka masih menunggu hasil Pilkada 2018 sebagai salah satu indikator yang harus dipertimbangkan untuk memilih pasangan capres-cawapres.

"Partai-partai menunggu pilkada serentak untuk memastikan apakah 2 atau 3 poros. Siapa cawapres Jokowi, cawapres Prabowo, atau ada poros ketiga setelah bacaan politik pilkada," sebut Gun Gun.

Seperti diketahui, Pilkada 2018 akan diselenggarakan serentak di 171 daerah esok hari, Rabu (27/6). Dari 171, 17 di antaranya adalah pilgub. Daerah dengan DPT terbesar adalah Jabar, Jatim, Jateng, Sumut, dan Sulsel. (elz/tor)