Kapolri: Penembakan Pesawat di Papua Manfaatkan Situasi Pilkada

Zunita Amalia Putri - detikNews
Senin, 25 Jun 2018 17:08 WIB
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut penembakan pesawat Trigana Air yang ditembak kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) di Bandara Kenyam memanfaatkan momen Pilkada. Tito menyebut kelompok tersebut sengaja mengeluarkan intimidasi untuk memilih paslon tertentu.

"Kemudian kita tahu bahwa di daerah ini ada kelompok bersenjata di Nduga dulu kelompok ini pernah menyandra orang. Jadi kelompok-kelompok senjata ini sering dikasih tugas, dimanfaatkan atau juga ikut memanfaatkan situasi pilkada," kata Tito di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (25/6/2018).


Tito menyebut peristiwa itu terjadi pagi tadi pukul 09.35 WIT. Pesawat itu mengangkut 15 anggota Brimob yang bertugas untuk pengamanan Pilkada ke Kabupaten Nduga. Tito menduga ada upaya intimidasi kepada masyarakat untuk memilih paslon tertentu.

"Selepas ini infonya sudah ada 114 anggota TNI/Polri yang ada di sana. Ada kecenderungan kelompok tertentu supaya pasukannya nggak maksimal supaya apa? Agar mereka lakukan intimidasi kepada masyarakat untuk memilih pasangan tertentu. Tapi kita nggak akan mundur kita nggak boleh kalah dengan kelompok senjata di situ dalam rangka proses demokrasi berjalan tanpa intimidasi," ujarnya.


Tito menyebut kelompok itu juga menguasai Bandara Ilaga. Bahkan kelompok itu juga sengaja menutup bandara dengan tujuan agar paslon jagoan mereka yang gugur bisa kembali ikut Pilkada.

"Sama dengan bandara Ilaga juga dikuasai ditutup karena kita tahu ada kelompok-kelompok KKB. Kita paham mereka kadang-kadang dimanfaatkan oleh kelompok politik dalam rangka kepentingan politik mereka. Nutup bandara Ilaga dengan tuntutan mereka yang gugur boleh ikut lagi atau ditunda sampai 2020 pilkadanya," urai Tito.


"Pernah memang sampai 4 tahun ditunda tahun 2010-2013 kemudian nggak boleh di sana sehingga sempet kita lakukan dialog akhirnya jalan lagi," imbuhnya.

Tito pun memastikan pihaknya bakal melawan intimidasi tersebut. Dia memastikan bakal mengirimkan pasukan lebih banyak lagi untuk menangani intimidasi itu.

"Jadi peristiwa ini kita duga adalah kelompok senjata yang dimaikan untuk permainan politik. Kita nggak akan kalah! Makin dikerjain, makin banyak kita kirim pasukan," tegasnya.

(ams/asp)