DetikNews
Senin 25 Juni 2018, 12:09 WIB

Pilu Warga Banten Kehilangan Istri yang Melahirkan di Malam Lebaran

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Pilu Warga Banten Kehilangan Istri yang Melahirkan di Malam Lebaran Sana menggendong anaknya. (Bahtiar/detikcom)
Serang - Sana, warga Kampung, Cibeurum, Padarincang, Serang, harus merelakan istrinya, Saenah, meninggal setelah melahirkan pada malam Lebaran. Ia sempat minta pertolongan kepada bidan, tapi ditolak. Pergi ke puskesmas sepi, karena tak ada layanan.

Sana bercerita, pada Jumat (15/6) pukul 23.00 WIB, istrinya mengalami kontraksi. Sejam kemudian bayinya langsung keluar. Ia panik mencari dukun beranak. Begitu tiba, si dukun rupanya tidak sanggup dan menyarankan minta pertolongan bidan karena sudah terjadi pendarahan.

Ia pun langsung pergi ke bidan Desa Cibeurum. Tengah malam ia membangunkan bidan yang menurutnya kerja di Puskesmas Padarincang tersebut. Sana mengaku ditolak dan disarankan pergi ke puskesmas malam itu juga.

"Bu, saya minta tolong, istri saya sudah melahirkan, bayi sudah di luar, keadaan kritis. Ibu mau saya bawa ke rumah. Kata dia nggak bisa. Alasannya nggak pernah dipanggil, nggak pernah dibawa (ke warga). Itu mah bawa saja ke Cacaban (puskesmas). Di sana peralatannya cukup. Dokter ada," kata Sana saat ditemui di rumahnya, Padarincang, Serang, Banten, Senin (25/6/2018).

Karena ditolak, Sana kemudian langsung pergi ke puskesmas Padarincang di Kampung Cacaban. Di sana, ia sempat menggedor pintu karena puskesmas tertutup. Yang ia lihat, malam itu hanya ada satu pasien bernasib sama tak tertolong dan menunggu perawatan dokter.

"Ternyata ke sana kosong. Bahkan ada orang nunggu dokter, anaknya nggak dirawat dari jam 11 sampai jam 2 malam. Saya teriak tolong, gedor-gedor tapi nggak nggak ada siapa-siapa," katanya.

Karena tak satu pun ada yang mau menolong, Sana kemudian pulang ke rumahnya di Cikotak, yang lokasinya di perbukitan Padarincang. Ia menangis dan bilang kepada istrinya bahwa tak ada satu pun bidan yang mau menolong. Tidak lama kemudian, Sabtu (16/6) sekitar pukul 03.00 WIB istrinya pun meninggal di atas pangkuannya.

"Saya sempat bilang, saya sudah berupaya cari bidan, nggak dapat, sampai sudah kritis. Saya sempat ngomong sekuat tenaga, tapi tidak ada hasil," ujarnya.

Malam sebelum meninggal, menurut Sana, istrinya sempat memberikan nama untuk bayinya. Si bayi selamat dan kemudian diberi nama Nurul Safitri karena lahir pada malam Idul Fitri.

Beberapa hari kemudian, pada Sabtu (23/6), pihak bidan dan puskesmas, menurut Sana, datang ke rumah. Mereka menyalahkan dirinya karena tidak lebih awal membawa istrinya ke fasilitas kesehatan.

"Istilahnya nyalahin saya (karena) nggak dibawa ke sana. Sebelum sakit maksudnya, kenapa nggak dibawa. Di kampung adanya dukun," ujar Sana, yang sehari-hari bekerja jadi buruh tani.
(bri/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed