DetikNews
Sabtu 23 Juni 2018, 07:15 WIB

Antara Prabowo, Anies, dan Tuduhan Mark Up Proyek LRT

Danu Damarjati - detikNews
Antara Prabowo, Anies, dan Tuduhan Mark Up Proyek LRT Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (Wisma Putra/detikcom)
FOKUS BERITA: Anggaran LRT Di-mark Up?
Jakarta -
Tuduhan Prabowo Subianto mengenai adanya mark up proyek LRT menjadi kontroversi. Anies Baswedan dibawa-bawa karena disebut Prabowo sebagai pihak pemberi data indeks harga LRT yang dijadikan rujukan.

Tuduhan soal mark up LRT Palembang ini disampaikan Prabowo lewat sambutannya pada acara silaturahmi kader Gerindra di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/6/2018).



"Tadi dalam perjalanan di airport, wah ada LRT, kereta api. Ingat, kita tahu, tidak jelas bermanfaatnya untuk siapa. Saya tanya harganya berapa proyeknya. Rp 12,5 triliun. Luar biasa. Rp 12,5 triliun untuk sepanjang 24 km. Saya diberi tahu oleh Gubernur DKI yang sekarang, Saudara Anies Baswedan, dia menyampaikan kepada saya: Pak Prabowo, indeks termahal LRT di dunia 1 km adalah 8 juta dolar," ujar Prabowo.

Prabowo kemudian melanjutkan, merujuk pada data yang disebutnya berasal dari Anies itu, terjadi penggelembungan. Eks Danjen Kopassus ini menyebut penggelembungan tersebut tak tanggung-tanggung.

"Kalau ini, Rp 12 triliun untuk 24 km, berarti 1 km 40 juta dolar. Bayangkan. Di dunia 1 km 8 juta dolar, di Indonesia, 1 km 40 juta dolar. Jadi saya bertanya kepada Saudara-saudara, mark up, penggelembungannya berapa? 500 persen. Ini bangsa ini pintar atau bodoh," kata Prabowo.



"Saudara-saudara sekalian, 500 persen, mencurinya 400 persen. Delapan juta dolar di luar negeri sudah untung, kalau tidak untung mereka tidak kerja kalau hitungan saya ini di sana untung minimal 20-30 persen. Ini betapa, 500 persen. Bayangkan 400 persen, aduh. USD 40 juta, 1 km jadi 32 juta dolar yang hangus. Berapa rupiah itu? Rp 400 miliar. Bisa bangun berapa RS? Berapa puskesmas, berapa ribu hektare. Ini di Palembang, bagaimana di Bogor? Bagaimana di Jakarta, di provinsi lain?" sambungnya.

Anies tak membantah ataupun mengiyakan bahwa dia menyampaikan isu dana LRT Palembang ke Prabowo. Saat dimintai tanggapan, Anies justru mendukung wartawan mencari tahu harga proyek LRT Palembang yang sebenarnya.

"Menurut saya begini, tugas jurnalistik adalah melakukan verifikasi, melakukan validasi. Jadi saya malah anjurkan pada media, statement Pak Prabowo itu dijadikan pemantik. Anda tinggal buka data proyek LRT seluruh dunia dan Indonesia, dari situ malah dapat," kata Anies.



Menurut Anies, Prabowo punya referensi bacaan yang banyak, sehingga Anies yakin Prabowo tak sembarangan dalam menyampaikan data. Apa yang disampaikan Prabowo adalah hasil pembacaan dan perbandingan. Maka Anies mendorong wartawan melakukan hal yang sama, yakni mendapatkan data yang sebenarnya dan bukan sekadar mendasarkan keterangan dari pernyataan tokoh.

"Itu jauh lebih menarik daripada soal siapa mengatakan apa, di mana, kapan, dan lain-lain," kata Anies.

Pemerintah dan Kontraktor Membantah

Kepala Proyek LRT Palembang, Mashudi Jauhar, enggan berkomentar banyak menanggapi tudingan Prabowo. Soalnya Prabowo berbicara dengan sumber data yang tak jelas. "Ya, apa yang mau ditanggapi? Wong datanya juga nggak dijelasin dari mana? Dan apa bisa disamakan dengan Palembang yang dimaksudkan?" kata Mashudi saat dihubungi wartawan, Kamis (21/6/2018).

Dia penasaran atas data yang dikemukakan Prabowo soal LRT bahwa ada negara yang bisa membangun LRT dengan duit US$ 8 juta per 1 km. Bahkan di kawasan ASEAN, biaya per km pembangunan LRT disebutnya lebih tinggi.




"Di Malaysia, (rute) Kelana Jaya-Ampang 7,2 miliar yen/km (US$ 65,52 juta/km). Manila, LRT Fase 1 extension, 8,2 miliar yen/km (US$ 74,6 juta/km)," kata Mashudi.

Benarkah biaya LRT Palembang Rp 12,5 triliun untuk 24 km sebagaimana yang dikatakan Prabowo? Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah membeberkan besaran biaya pembangunan LRT Palembang saat meninjau proyek itu pada 24 Mei 2017.

Sri mengatakan LRT yang tadinya menelan biaya lebih dari Rp 12 triliun kemudian turun menjadi Rp 10,9 triliun sesudah diadakan peninjauan ulang (review). Jaraknya 23,5 km dengan 13 stasiun. Biaya Rp 10,9 triliun itu diambilkan dari APBN dalam skema tahun jamak (multiyears). Kontraktor proyeknya adalah perusahaan pelat merah PT Waskita Karya (BUMN).



Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi membantah tudingan Prabowo. Budi menyarankan Prabowo lebih berhati-hati terhadap verifikasi data yang didapatnya sebelum diungkap ke publik.

"Itu nggak benar. Sebaiknya sebagai orang yang pandai harus meneliti dulu masukan dari timnya, karena angka dugaan itu bukan angka yang benar," kata Menhub saat dihubungi detikcom, Jumat (22/6).

Secara terpisah, detikcom bertanya kepada Direktur jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri. Bila disebut bahwa biaya LRT sebenarnya US$ 8 juta per 1 km sebagaimana yang disebut Prabowo, Zulfikri tak setuju. Soalnya proyek di satu tempat tak bisa serta-merta disamakan dengan proyek di tempat lain.



"Kalau kita nggak lihat apple to apple dengan pekerjaan yang sama, sebenarnya nggak pas kita bandingkan itu," kata Zulfikri kepada detikcom, Jumat (22/6).

Banyak faktor yang mempengaruhi harga suatu proyek, termasuk LRT. Misalnya, jika LRT akan dibangun melayang (elevated) ataupun tidak melayang, itu sudah mempengaruhi harga proyek. Fasilitas yang akan disediakan, jumlah stasiun, hingga masalah persinyalan kereta turut mempengaruhi pula.

"Sekarang struktur elevated atau di atas tanah, itu jauh beda harganya. Makanya rate US$ 8 juta per km, nah ini memang kita lihat. Harus dilihat lagi detailnya, teknologinya apa," kata Zulfikri.

(dnu/fjp)
FOKUS BERITA: Anggaran LRT Di-mark Up?
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed