DetikNews
Jumat 22 Juni 2018, 15:10 WIB

Bicara Presiden Baru, Amien Kritik Meikarta hingga Freeport

Elza Astari Retaduari - detikNews
Bicara Presiden Baru, Amien Kritik Meikarta hingga Freeport Amien Rais (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais kembali mengkritik pemerintahan yang dinilai tengah melakukan demokrasi diskriminatif. Bicara soal presiden baru, Amien, yang menyatakan siap menjadi calon presiden (capres), pun menyinggung pelanggaran dalam proyek Meikarta, reklamasi Teluk Jakarta, dan Freeport.

"Kalau ada presiden baru nanti, itu dia perlu mengetahui, masalah terbesar dari bangsa kita ini. Sekaligus juga menunjukkan jalan keluarnya. Nah, masalah yang paling besar, saya kira adalah praktik demokrasi kita ini, yang tergolong demokrasi diskriminatif," ujar Amien.

Pernyataan Amien itu disampaikan lewat video yang di-posting di akun Instagram-nya, @amienraisofficial, seperti dilihat detikcom, Jumat (22/6/2018). Ada sejumlah hal yang ia sampaikan dalam 6 bagian video itu.

Amien berbicara soal diskriminasi politik, diskriminasi hukum, diskriminasi ekonomi, diskriminasi sosial, hingga diskriminasi agama. Dia pun bicara saat ini tengah terjadi fenomena 'a state above a state'.


"Negara di atas negara. Bukan negara di dalam negara, tapi negara di atas negara. Meikarta itu izin belum beres, tapi seolah-olah pasti dapat sekian puluh ribu hektare, kemudian digasak semuanya. Sekarang mangkrak. Ini luar biasa, ini penghinaan pada akal sehat," kata Amien.

Eks Ketua MPR itu juga menyinggung soal reklamasi Teluk Jakarta. Seperti diketahui, sejumlah pulau buatan reklamasi Teluk Jakarta memang masih terhambat izin.

"Juga lihat reklamasi Teluk Jakarta. Izin belum jelas, 17 pulau palsu mau dibuat, sekarang mangkrak. Dengan melanggar undang-undang, melanggar juga nurani kebangsaan," ucapnya.

Bukan hanya Meikarta dan reklamasi Teluk Jakarta yang disinggung Amien. Perusahaan Amerika Serikat, Freeport, yang melakukan penambangan di Papua, juga turut disebutkan.

"Lihat juga misalnya Freeport-McMoran, ini sebuah korporasi besar, ugal-ugalan, menjarah, merampok yang dimiliki oleh Papua di tanah air kita ini. Kemudian ini sebuah korporasi yang luar biasa, maaf, biadab," ungkap dia.


"Jadi tailing (limbah sisa tambang), pasir buangan dari Freeport itu, dihitung oleh Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), kalau tailing atau polutan ini dipindah ke Jakarta, yang luasnya 661 km persegi, maka permukaan Jakarta menjadi lebih tinggi 5 meter. Bayangkan ya. Nah ini tidak boleh lagi, negara di atas negara," imbuh Amien.

Dalam pidatonya itu, Amien mengajak para pengikutnya bersiap menyambut presiden baru. Hanya, dia tak menyebut nama tokoh yang akan didukungnya sebagai capres pada 2019.

"Saudara-saudaraku, jadi mari kita mulai pasang kuda-kuda, kita ucapkan selamat tinggal, goodbye, ma'assalama demokrasi diskriminatif dalam berbagai bidang. Kemudian menuju demokrasi inklusif. Dan kita akhiri fenomena negara di atas negara. Selamat tinggal. Kita pulihkan kedaulatan ekonomi kita," sebutnya.

"Kemudian insyaallah kita bisa merekonstruksi lagi negeri kita ini dengan presiden baru mendatang. Entah siapa pun, tapi itulah anjuran saya. Insyaallah kita ketemu lagi. Ini cepat-cepat saja, tidak mendetail," tambah Amien.


Saksikan juga video 'Amien Rais Tantang Jokowi Duel Secara Demokratis':

[Gambas:Video 20detik]



(elz/iy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed