DetikNews
Jumat 22 Juni 2018, 13:17 WIB

Amien Bicara soal Presiden Baru: Goodbye Demokrasi Diskriminatif

Elza Astari Retaduari - detikNews
Amien Bicara soal Presiden Baru: Goodbye Demokrasi Diskriminatif Amien Rais (Uje Hartono/detikcom)
Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais kembali berbicara soal presiden baru menjelang Pilpres 2019. Amien berbicara soal demokrasi di Indonesia yang disebutnya diskriminatif dan berpihak kepada penguasa.

Pernyataan Amien itu dibuat dalam sebuah video yang di-posting dalam akun Instagram-nya,@amienraisofficial. Ada 6 bagian video Amien dengan tema ini.

"Kalau ada presiden baru nanti, itu dia perlu mengetahui, masalah terbesar dari bangsa kita ini. Sekaligus juga menunjukkan jalan keluarnya. Nah, masalah yang paling besar, saya kira adalah praktek demokrasi kita ini, yang tergolong demokrasi diskriminatif," ujar Amien seperti dilihat dalam akun Instagram @amienraisofficial, Jumat (22/6/2018).

Mantan Ketua MPR ini juga berbicara soal diskriminasi politik, diskriminasi hukum, diskriminasi ekonomi, diskriminasi sosial, hingga diskriminasi agama. Amien pun menyinggung sejumlah proyek di dalam negeri yang dinilai merugikan bangsa, seperti reklamasi Teluk Jakarta dan Freeport.


Berikut ini pernyataan lengkap Amien Rais:

"Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara-saudaraku, saya sudah lama memikirkan, kalau ada presiden baru nanti, itu dia perlu mengetahui, masalah terbesar dari bangsa kita ini. Sekaligus juga menunjukkan jalan keluarnya. Nah, masalah yang paling besar, saya kira adalah praktek demokrasi kita ini, yang tergolong Demokrasi diskriminatif.

Ini contradictio in terminis, demokrasi kok diskriminatif, nggak boleh ya. Seperti jatuh kok ke atas, nggak boleh itu, nggak masuk akal. Nah karena itu lihat kita, secara glaring, secara mencolok mata, kita melihat misalnya diskriminasi hukum. Hukum tebang pilih. Yang berkuasa, yang berkuasa, yang punya uang, yang kuat, itu menang. Yang dha'if lemah, yang kecil selalu kalah. Ini tidak boleh. Aib.

Kemudian juga, ada diskriminasi politik. Sistem koncoisme, yang dekat dengan kekuasaan itu diproteksi, diberikan keleluasaan, tetapi yang oposisi diperkecil dan dikempeskan. Bahkan ada lho ide yaitu calon tunggal. Waduh, calon tunggal itu akan membawa demokrasi ke otoritarisme. Nggak ada oposisi, nggak ada kontrol lagi, sangat berbahaya. Juga bahkan diskriminasi ekonomi. Kebijakannya bukan untuk rakyat, tapi untuk konglomerat. Nggak usah saya urai panjang lebar, semua angka fakta mengatakan seperti itu.

Kemudian bahkan diskriminasi agama. Islam, sekarang ini merasa seperti tertuduh, terpojok, tersangka. Kalau ada terorisme, pasti islam, ya segala macam, ya tentu ini tidak boleh lagi. Dan kita tidak boleh menutup mata, ada diskriminasi sosial. Makin menganga lebar, jurang antara kaya dan miskin.

Nah sekarang tentu, resepnya apa? Resepnya kita memegang demokrasi inklusif. Ini cocok dengan kitab suci Alquran buat yang umat Islam, buat umat yang lain, saya kira juga lebih kurang sama. Agama wahyu itu sama menegakkan keadilan. Kemudian juga tentu, kita harus segera mengejawantahkan
keadilan politik, keadilan ekonomi, keadilan hukum, keadilan sosial, keadilan pendidikan.

Semua itu ada di dalam pembukaan UUD kita, dalam batang tubuh UUD kita itu, bahkan di atas itu, kitab suci juga menyampaikan tidak boleh masyarakat manusia itu, dipimpin oleh sebuah kekuasaan, yang tidak adil. Tidak boleh ada sekelompok bangsa, yang dikucilkan, kelompok lain diperbesar. Tidak boleh. Kemudian, demokrasi inklusif itu artinya apa? semua anak bangsa dirangkul. Jadi tidak boleh ada yang didiskriminasi. Dan menurut saya juga ini penyakit yang kemarin itu, sampai sekarang ini adalah, ada fenomena a state above a state. Negara di atas negara. Bukan negara di dalam negara, tapi negara di atas negara.


Tonton juga video 'Amien Rais Tantang Jokowi Duel Secara Demokratis':

[Gambas:Video 20detik]



Lihat misalnya Meikarta. Meikarta itu izin belum beres, tapi seolah-olah pasti dapat sekian puluh ribu hektar, kemudian digasak semuanya. Sekarang mangkrak. Ini luar biasa, ini penghinaan pada akal sehat.

Juga lihat Reklamasi Teluk Jakarta. Izin belum jelas, 17 pulau palsu mau dibuat, sekarang mangkrak. Dengan melanggar Undang-undang, melanggar juga nurani kebangsaan.

Lihat juga misalnya Freeport-McMoran, ini sebuah korporasi besar, ugal-ugalan, menjarah, merampok yang dimiliki oleh Papua di tanah air kita ini. Kemudian ini sebuah korporasi yang luar biasa, maaf, biadab. Jadi tailing (limbah sisa tambang), pasir buangan dari Freeport itu, dihitung oleh JATAM (Jaringan Advokasi Tambang), kalau tailing atau polutan ini dipindah ke Jakarta, yang luasnya 661 km persegi, maka permukaan Jakarta menjadi lebih tinggi 5 meter. Bayangkan ya! Nah ini tidak boleh lagi, negara di atas negara.

Saudara-saudaraku jadi mari kita mulai pasang kuda-kuda, kita ucapkan selamat tinggal, goodbye, ma'assalama demokrasi diskriminatif dalam berbagai bidang. Kemudian menuju demokrasi inklusif. Dan kita akhiri fenomena negara di atas negara. Selamat tinggal. Kita pulihkan kedaulatan ekonomi kita.

Kemudian insyaallah kita bisa merekonstruksi lagi negeri kita ini dengan presiden baru mendatang. Entah siapa pun, tapi itulah anjuran saya. Insyaallah kita ketemu lagi. Ini cepat-cepat saja, tidak mendetail.

Assalamu'alaikum Warahmatulah Wabarakatuh."

Demokrasi Inklusif: Merangkul Semua Anak Bangsa Oleh: Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA (Part 1) Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Saudara-saudaraku, Saya sudah lama memikirkan, Kalau ada presiden baru nanti, itu dia perlu mengetahui, masalah terbesar dari bangsa kita ini. Sekaligus juga menunjukkan jalan keluarnya. Nah, masalah yang paling besar, Saya kira adalah praktek demokrasi kita ini, yang tergolong Demokrasi Diskriminatif. Ini Contradictio in terminis, demokrasi kok diskriminatif, gak boleh ya. Seperti Jatuh kok ke atas. Gak boleh itu, gak masuk akal. Nah karena itu kita lihat, secara glaring, Secara mencolok mata, kita melihat misalnya DISKRIMINASI HUKUM. Hukum tebang pilih. Yang berkuasa, yang berkuasa, yang punya uang, yang kuat, itu menang. Yang dha'if (lemah), yang kecil,

A post shared by Mohammad Amien Rais (Official) (@amienraisofficial) on Jun 21, 2018 at 8:53am PDT


(elz/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed