DetikNews
Jumat 22 Juni 2018, 12:55 WIB

Karnaval Rio de Janeiro Inspirasi Kemeriahan Ultah Jakarta

Aryo Bhawono - detikNews
Karnaval Rio de Janeiro Inspirasi Kemeriahan Ultah Jakarta Kemeriahan malam peringatan HUT DKI ke-491 (Foto: Muhammad Fida/detikcom)
Jakarta -

Perayaan HUT DKI Jakarta digelar pertama kali pada 1968 agar warga ibukota melepas penat dari tekanan hidup. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kala itu menyebut 80 persen warga kota hidup dalam kondisi perumahan yang tak memenuhi syarat. Kampung mereka disesaki pemukiman dan rumah mereka-pun penuh sesak menampung keluarga. Di tengah tekanan hidup dan buruknya tempat tinggal seperti itu, mereka tak dapat menikmati hiburan.

Ali teringat dengan sebuah majalah asing yang menampilkan karnaval warna-warni di Rio de Janeiro, Brasil. "Kenapa Jakarta tidak bisa (ikin acara seperti itu)?" katanya dalam Pers Bertanya Bang Ali Menjawab.

Dia pun membuat kebijakan menutup Jalan MH Thamrin hingga kawasan Monas. Di dirikan banyak panggung hiburan di sepanjang jalan tersebut. Sengaja untuk menarik warga di pinggiran Jakarta dan kampong-kampung keluar rumah menghirup udara segar dan bergembira. Semua warga Jakarta pun tumpah berbaur di sana.

Kebiasaan Bang Ali, pada malam 21 ke 22 Juni tepat pukul 24.00, ia bersama istri, Nani, muncul di panggung berteriak, "Hidup Jakarta". Bang Ali bilang ia ingin menghibur rakyat yang tinggal di kampung kumuh. Bang Ali senang jika ada warga yang gelar tiker, sambil makan kacang di pinggiran taman Jalan Thamrin.

Katanya, "Biar rakyat kecil terhibur, karena mereka tidak bisa bersenang senang di night club. Mereka harus ada hiburan."

Arifin Pasaribu menuliskan dalam buku Hotel Indonesia: Gagasan Bung Karno, Cagar Budaya Dibangun Dengan Dana Pampasan Perang Jepang, bahwa Hotel Indonesia tak pernah absen meramaikan perayaan HUT DKI Jakarta. Pada 1968 mereka menggelar pawai mobil hias di sepanjang areal perayaan.

Meriahnya acara ini tak hanya dihadiri oleh warga saja. Perwakilan korps diplomatik beberapa negara tetangga turut datang. Bang Ali-pun ikut membaur dengan warga.

Kritik bermunculan terhadap kebijakan tersebut. Tapi seperti biasa, dia jalan terus. "Berlakulah normal dan wajar. Jangan berpura-pura alim," dia menyergah para pengkritiknya.

Menyelenggarakan perayaan ini tetap saja tak sesederhana menggelar panggung. Bang Ali membentuk Yayasan Penyelenggaraan Pameran dan Pekan Raya Jakarta melalui Perda No. 8 Tahun 1968. Keseriusan Bang Ali ini mendapat sambutan besar.

Pada perayaan selanjutnya, 1969, pameran HUT Jakarta digelar hingga 71 hari. Padahal perayaan sebelum dan sesudahnya hanya selama 30-35 hari. Perkembangan acara-pun menyebabkan kawasan Monas dan Jalan Thamrin tak dapat menampung pesta pora warga Jakarta. Akhirnya, pada 1992 penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta dipindah ke Kemayoran.

Gelar HUT Jakarta terus berkembang dengan pameran dagang dan wisata belanja. Pada 2013, Gubernur Joko Widodo kembali menggelar Malam Muda-Mudi di sekitar Monas sebagai hiburan rakyat. Warga-pun turut membludak.

Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan pesta rakyat ini berangkat dari kontroversi penetapan HUT Jakarta secara politis. Namun ia tak mau mempermasalahkan penetapan tanggal perayaan tersebut. Hanya saja harusnya perayaan pesta rakyat saat HUT Jakarta juga harus mencari alasannya.

"Apakah perayaan ini sesuai ide pluralisme, wawasan maritim, dan kesejahteraan," jelasnya ketika dihubungi , Kamis (21/6/2018).

Tonton juga 'HUT Jakarta, SeaWorld Hadirkan Ondel-ondel Joget di Bawah Air':

[Gambas:Video 20detik]




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed