Prabowo Tuding Mark Up LRT, PPP Pertanyakan Kerja Fraksi Gerindra

Tsarina Maharani - detikNews
Jumat, 22 Jun 2018 09:12 WIB
Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Ketum Gerindra Prabowo Subianto menuding anggaran pembangunan LRT di Indonesia di-mark up. PPP menyinggung peran Fraksi Gerindra di DPR yang turut terlibat membahas biaya pembangunan LRT yang dibebankan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Ini lagi-lagi menunjukkan lemahnya pemahaman terhadap penyusunan APBN. Bukankah biaya tersebut dibebankan kepada APBN yang UU-nya disepakati oleh pemerintah bersama DPR. Di DPR terdapat juga Fraksi Gerindra, anak buah PS (Prabowo Subianto)," ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek) kepada wartawan, Kamis (21/6/2018).


Jika pun ada dugaan mark up, ada instansi-instansi yang berwenang menangani hal tersebut. Awiek meminta partai oposisi, seperti Gerindra, tak asal melemparkan tuduhan tanpa dasar.

"Kalau soal kemahalan, toh ada BPKP untuk mengaudit kondisi fisik LRT. Jika ada penyimpangan ada BPK, jika terindikasi mark up dan korupsi, ada KPK, kejaksaan, maupun polisi untuk bertindak," kata anggota DPR itu.

"Jika tuduhan-tuduhan hanya didasarkan pada posisi asal beda dan asal bunyi, maka itu tidak mencerdaskan," imbuh Awiek.

Diberitakan, biaya pembangunan LRT di Indonesia dinilai kemahalan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Ia pun menuding ada mark up.


Menurut data yang diperolehnya, biaya pembangunan untuk LRT di dunia hanya berkisar US$ 8 juta/km. Sedangkan di Palembang, yang memiliki panjang lintasan 24,5 km, biayanya hampir Rp 12,5 triliun atau dengan kata lain biayanya US$ 40 juta/km.

Kepala Proyek LRT Palembang Mashudi Jauhar membantah. Dia menyebut biaya pembangunan LRT di Palembang sebenarnya sudah sesuai dengan harga pasar, mengingat konstruksi LRT yang diterapkan di Palembang merupakan konstruksi layang yang membutuhkan biaya tinggi.

Ia mencontohkan biaya pembangunan LRT di Malaysia dan Filipina.

"Di Malaysia, (rute) Kelana Jaya-Ampang 7,2 miliar yen/km (65,52 juta/km). Manila, LRT Fase 1 extension, 8,2 miliar yen/km (US$ 74,6 juta/km)," beber dia. (tsa/nvl)