DetikNews
Senin 18 Juni 2018, 15:23 WIB

M. Iriawan, Anak Tenabang yang Kembali Pimpin Pasundan

Sudrajat - detikNews
M. Iriawan, Anak Tenabang yang Kembali Pimpin Pasundan Komjen M. Iriawan, Pj Gubernur jawa Baraty (Foto: Mochamad Solehudin)
Jakarta -

Syak wasangka mengiringi pelantikan Komjen M. Iriawan sebagai Penjabat Gubernur Jawa Barat (Jabar) oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Komolo, Senin (18/6/2018). Kecurigaan bahkan telah menyeruak sejak Januari lalu, ketika pertama kali nama Iriawan muncul sebagai kandidat.

Terlepas dari hal itu, Iriawan sejatinya bukan orang baru bagi warga Pasundan. Lelaki kelahiran Tanah Abang, 31 Maret 1962 itu pernah menjadi Kepala Polda Jabar sejak 24 November 2013 hingga dia ditarik ke Mabes Polri sebagai Kadiv Hukum Polri, 5 Juni 215.

Sepak terjangnya semasa memimpin Polda Jabar pun lumayan kinclong. Ia antara lali berhasil mengungkap kasus penculikan bayi milik pasangan Toni Manurung (26) dan Lasmaria boru Manulang (24) di RS Hasan Sadikin, Bandung, 25 Maret 2014.

Iriawan juga dikenal keras dalam menerapkan disiplin terhadap anak buahnya. Di sela apel siaga pasukan pengamanan Konferensi Asia Afrika, di Lapangan Gasibu, 14 April 2015, misalnya, dia pernah menampar dua anggota satuan Sabhara. Hal itu bermula ketika Iriawan menemukan sampah bekas botol minuman berserakan di dalam mobil patroli kedua petugas tersebut. "Mobil ini dibeli lewat pajak rakyat, masak kalian merawatnya saja tidak bisa," ujar Iriawan.

Untuk membuat efek jera terhadap para geng motor yang bertindak kriminal dan sadis, Iriawan memerintahkan jajarannya untuk melakukan tembak di tempat. Bila ada yang tak berani? "Ukur celananya, ganti pakai rok."

Dari Jawa Barat, lulusan Akpol 1984 itu ditarik ke Mabes Polri. Dia dipercaya menjadi Kadiv Hukum Polri, 5 Juni 215 lalu menjadi Kadiv Propam Polri, 28 Februari 2016.

Selang sekitar setengah tahun kemudian, dia memimpin Polda Metro Jaya, 16 September 2016 - 20 Juli 2017. Iriawan menyebut jabatan tersebut merupakan salah satu impian ibundanya. "Saya dilahirkan pada 31 Maret 1962 di Tanah Abang oleh ibu saya. Oleh karena itu kenapa jadi Kapolda Metro mungkin karena ada titisan, titisan dari Tanah Abang," kata Iriawan saat memberikan sambutan dalam serah terima jabatan Kapolda Metro Jaya, sambil memeluk ibunya.

Meski tergolong singkat, ia menorehkan sejumlah catatan yang membanggakan. Selain berhasil mengamankan pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017, di bawah kendali Iriawan, aksi-aksi massa berbau politik seperti gerakan bela Islam 411 dan 212, berlangsung dengan tertib.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia reserse, Polda Metro Jaya di bawah komando Iriawan juga berhasil mengungkap beberapa kasus kriminal yang menyita perhatian publik dengan cepat. Misalnya para pelaku perampokan sadis di dekat SPBU Daan Mogot, dan para pelaku pembunuhan di Pulo Mas.

Karena sederet prestasinya itulah, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menariknya ke Mabes Polri sebagai Asisten Operasi sejak 20 Juli 2017. Ketika namanya menuai kontroversi saat diagadang-gadang menjadi calon penjabat Gubernur Jabar pada Januari 2018, selang dua bulan kemudian dia digeser ke Lemhanas sebagai Sekretaris Utama.

Rupanya langkah itu bagian dari strategi guna memuluskannya sebagai penjabat Gubernur Jabar. Sebab selain lepas dari jabatan struktural Mabes Polri yang menjadi sumber kecurigaan dan polemik, dengan jabatan Sestama Lemhanas berarti telah memenuhi UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, khususnya Pasal 19 ayat (1) huruf b.

Aturan itu menyebutkan "yang dimaksud pimpinan tinggi madya adalah sekretaris kementerian, sekretaris utama,...". Menurut Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Bahtiar, jabatan Sekretaris Utama Lemhanas yang diemban Iriawan sejak awal Maret 2018, selain merupakan posisi sipil, juga, "Setara Dirjen atau Sekjen di kementerian," kata Bahtiar dalam pernyataan tertulis kepada detik.com, Senin (18/6/2018).

Pelantikan Iriawan yang cuma sepekan menjelang pemilihan gubernur pun seolah ingin menegaskan bahwa hal itu sama sekali tak terkait dengan upaya curang yang mungkin akan dilakukan pemerintah pusat dalam pilkada di Jabar. Sebab semua tahap persiapan Pilkada telah disiapkan oleh pejabat sebelumnya. "Iriawan tidak ada apa-apa. Toh mau apa, pilkada tinggal seminggu lagi," ujar Tjahjo.

Iriawan pun menegaskan dirinya akan berswikap dan bertindak professional demi mempertaruhkan karirnya selama puluhan tahun sebagai anggota Bhayangkara. "Ini pertaruhan, kalau saya tidak netral sayang karir saya. Karena saya masih ada sisa waktu untuk bekerja demi negara ini dan ingin sukses di semua sektor," ujarnya usai pelantikan.
(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed