DetikNews
Minggu 17 Juni 2018, 22:44 WIB

Wacana Poros Mekah vs Beijing Picu Kontroversi

Haris Fadhil, Danu Damarjati - detikNews
Wacana Poros Mekah vs Beijing Picu Kontroversi Sekjen Sekber Idrus bertemu dengan Habib Rizieq Shihab di Mekah (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Wacana poros Mekah dan poros Beijing muncul setelah Sekjen Sekretariat Bersama (Sekber) Indonesia, M Idrus berjumpa dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq. Wacana itu memicu kontroversi.

Idrus menyebut Habib Rizieq Syihab meminta agar pilpres 2019 hanya diikuti 2 poros, yakni poros Mekah dan poros Beijing. Idrus mengatakan poros Mekah merupakan poros keumatan yang tetap konsisten mengusung agenda umat. Poros ini mengaku tak akan mengkriminalisasi agama.

Ia juga menjelaskan soal yang dimaksud dengan poros Beijing. Idrus menyebut rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai poros Beijing karena dekat dengan kebijakan Presiden China Xi Jinping.

"Poros Beijing di mana rezim Jokowi hari ini yang lebih dekat kebijakan Presiden RRC Xi Jinping One Belt One Road (OBOR), serbuan tenaga kerja asing dari Tiongkok serta meningkatnya hutang negara yang lebih Rp 5.000 Triliun sebagian besar dari China," ujar Idrus.



Apa kata parpol-parpol?

Golkar mengkritik keberadaan saran dari Rizieq tersebut. Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzily mempertanyakan kenapa menamakan koalisi harus menggunakan nama kota atau negara lain. Menurutnya politik Indonesia tak ada urusannya dengan negara lain.

"Jangan ngarang deh. Ini masih suasana lebaran. Seharusnya ciptakan suasana kesejukan dan persaudaraan sesama anak bangsa," kata Ace.



Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan, istilah poros 'Mekah dan Beijing' itu merupakan penggunaan diksi yang menyesatkan rakyat. Pernyataan itu bisa menyebabkan salah penafsiran.

"Misleading, menyesatkan! Penggunaan diksi dan narasi untuk mengecoh rakyat," kata Hendrawan.

Wasekjen PAN Saleh Daulay menghargai pendapat pihak-pihak yang mengusulkan dua poros tersebut. Namun, pemilihan nama harusnya jadi perhatian.

"Kalau pakai nama poros Mekah dan Beijing, itu sama artinya membelah masyarakat Indonesia ke dua bagian yang berhadapan secara diametral. Dikhawatirkan ada kesalahpahaman dan akhirnya ada friksi-friksi yang tidak baik," kata Saleh.



PKB menilai poros Mekah dan poros Beijing sebagai dua haluan yang tidak tepat. Yang lebih tepat, semua pihak perlu membangun poros Indonesia.

"Itu sangat tidak tepat, karena Mekah dan Beijing bukan Indonesia. Kita harus membangun poros Indonesia," kata Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan.

Sementara itu, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menilai politik di Indonesia tidak sesederhana dua poros itu. Mardani menyebut ada negara-negara lain yang menilai posisi Indonesia penting.

"Politik tidak sesederhana poros Mekah dan poros Beijing. Selalu ada varian yang rumit," kata Mardani.

Lalu, apa kelanjutan dari wacana poros Mekah vs poros Beijing?
(imk/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed