DetikNews
Kamis 14 Juni 2018, 21:08 WIB

KLHK dan Polda Aceh Usut Tuntas Kematian Gajah Bunta

Muhammad Idris - detikNews
KLHK dan Polda Aceh Usut Tuntas Kematian Gajah Bunta Foto: Dok. KLHK
Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Polda Aceh mengusut kasus kematian gajah Bunta secara tuntas. Tidak hanya itu, komitmen yang kuat juga datang dari Gubernur Aceh, yang menyatakan akan mendukung penuh proses penegakan hukum kasus ini, sehingga diharapkan dapat membongkar jaringan perburuan liar gajah, dan memberikan efek jera kepada pelaku.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno, mengatakan kematian gajah jinak berumur 27 tahun ini, diketahui oleh mahout, Saifudin pada saat akan dimandikan.

Saat ditemukan, kondisi gading gajah telah hilang sebelah, dengan cara dibelah di bagian pipi. Adapun kematian Bunta diduga akibat adanya racun di dalam tubuhnya. Gajah tersebut ditemukan mati di Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, pada 9 Juni lalu.

Segera setelah Bunta diketahui telah mati, Saifudin segera melapor kepada Ketua CRU dan melaporkan hal tersebut ke Kepala Balai KSDA Aceh dan Polsek Serbajadi.


Selanjutnya Kepala Balai KSDA Aceh berkoordinasi dengan Polda Aceh dan Polres Aceh Timur, serta menugaskan Tim Dokter Hewan, untuk membantu penyidik melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab pasti kematian.

"Berdasarkan hasil nekropsi, kematian Bunta sendiri diperkirakan karena diracun. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sisa mangga dan pisang yang diduga diberi racun di lokasi kejadian", jelas Kepala Balai KSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo.

Ditambahkannya, Tim dokter hewan BKSDA Aceh mengambil sampel hati, jantung, usus, limpa serta kotoran, untuk mengetahui penyebab pasti kematian (causa of death).

CRU Serbajadi merupakan satu dari tujuh CRU yang ada di seluruh Aceh. Enam CRU lainnya adalah CRU Cot Girek di Aceh Utara, CRU Mila, Pidie, CRU Peusangan di Bener Meriah, CRU Sampoiniet di Aceh Jaya, CRU Alue Kuyun di Aceh Barat, dan CRU Trumon di Aceh Selatan.

Pengelolaan CRU Trumon bekerja sama dengan USAID Lestari, CRU Sampoiniet bekerja sama dengan PT Astra Agro Lestari, sedangkan lima CRU lainnya didukung oleh Pemerintah Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mitigasi konflik satwa, khususnya gajah.


Dukungan ini dalam bentuk penyediaan pakan gajah, fasilitasi kebutuhan koordinator, dan asisten mahout, serta bahan mitigasi, sedangkan untuk respon konflik berupa penggiringan dan kebutuhan mahout, merupakan tanggungjawab Balai KSDA Aceh.

Selain CRU, terdapat Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sare, yang dikelola Balai KSDA Aceh, untuk membantu konflik satwa gajah dengan manusia di seluruh Aceh, yang tidak dapat hanya diatasi oleh CRU
(idr/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed