DetikNews
Rabu 13 Juni 2018, 07:25 WIB

PD Wacanakan JK-AHY, Mungkinkah?

Gibran Maulana, Elza Astari Rd - detikNews
PD Wacanakan JK-AHY, Mungkinkah? Foto: JK saat temui AHY. (Dok Istimewa).
Jakarta - Partai Demokrat (PD) mendorong duet Jusuf Kalla (JK)-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk diusung dalam Koalisi Kerakyatan di Pilpres 2019. Mungkinkah koalisi ini bisa terwujud?

Koalisi Kerakyatan yang diusulkan Demokrat itu menyusul dari wacana terbentuknya poros ketiga sebagai tandingan dari Koalisi Keummatan, yang diusulkan Habib Rizieq Syihab (Gerindra-PKS-PAN-PBB), dengan koalisi pendukung petahana Presiden Joko Widodo. Poros ketiga sendiri diwacanakan tergabung antara PD, PAN, dan PKB.

"Betul. JK-AHY ini salah satu opsi yang sedang Demokrat pikirkan untuk Koalisi Kerakyatan. Ini pasangan ideal," ungkap Ketua DPP Demokrat, Jansen Sitindaon, kepada wartawan, Selasa (12/6/2018).

Ketua Divisi Komunikasi Publik Imelda Sari merinci alasan mengapa partainya mempertimbangkan duet JK-AHY. JK dianggap mewakili sosok yang menguasai masalah perekonomian sekaligus mampu merangkul umat, sementara AHY dinilai sebagai tokoh muda yang bisa menggaet pemilih milenial.

"Sebagai seorang Senior politisi dan pemimpin di negeri ini sosok Pak JK mewakili bukan hanya Indonesia Timur, tetapi juga sosok Pemimpin yang sangat paham tentang ekonomi, sosok Islam yang moderat dan juga punya hubungan baik dengan Negara Negara Islam dan Barat," ucap Imelda terpisah.


"Jika dipadukan dengan Mas Agus Yudhoyono yang muda, Jawa, berenergi dan punya wawasan kebangsaan juga pemahaman yang baik tentang situasi geo-politik dan berwawasan internasional serta dekat dengan generasi milenial maka perpaduan ini akan bagus," imbuhnya.

Imelda yakin, Koalisi Kerakyatan pada akhirnya akan terbentuk. Menurutnya, perkembangan dinamika politik terkait Pilpres 2019 akan semakin menemukan titik terang usai Pilkada Serentak akhir Juni nanti.

"Karena belum ada satupun Parpol yang menunjukkan akan berkoalisi secara resmi, semua masih menunggu pasangan calon yang akan diajukan Koalisi dalam Pilpres nanti," sebut Imelda.

PAN dan PKB masih menanggapi dingin usulan Demokrat soal duet JK-AHY. Namun Imelda cukup optimis poros ketiga di Pilpres 2019 akan terwujud.

"Sejauh ini pembicaraan terkait Poros Ketiga cukup intens baik dengan PAN maupun PKB," kata dia.

PKB sudah menanggapi wacana untuk menduetkan JK-AHY. Wasekjen PKB Daniel Johan mengatakan partainya masih fokus untuk mewujudkan agar sang ketum, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi pasangan bagi Jokowi.


"Belum ada perubahan. Posko JOIN terus bertambah di desa-desa, kita yakini hal ini selain akan menambah elektabilitas PKB, juga membantu menaikkan elektabilitas Jokowi," sebut Daniel.

Kemudian PAN menyatakan masih fokus untuk mengusung kader sendiri di Pilpres 2019. Saat ini PAN menggodok empat nama elitenya untuk menjadi capres, termasuk sang ketua Dewan Kehormatan, Amien Rais.

"Sejauh ini, PAN belum membicarakan Poros Kerakyatan ini. Kami masih fokus mengusung kader sendiri sembari menyukseskan pilkada dan mempersiapkan pileg yang akan datang," ungkap Wasekjen PAN, Saleh Partaonan Daulay, saat dikonfirmasi, Selasa (12/6).

Lantas mungkinkah Koalisi Kerakyatan ini akan terwujud?

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun menilai duet antara JK dan AHY bisa terwujud. Namun JK akan lebih baik maju melalui partainya sendiri, Golkar untuk berkoalisi dengan Demokrat. Golkar sendiri telah mendeklarasikan mendukung Jokowi.

"Secara prosedural, skenario ini bisa masuk. Kalau JK bisa memastikan tiket dari Golkar, yang artinya Golkar harus pisah dari Jokowi, dan ditambah dengan suara Demokrat, tentu cukup," ucap Rico dalam perbincangan, Selasa (12/6/2018) malam.

Sosok JK-AHY pun dianggap mewakili representasi demografis dan kompetensi pemilih. JK yang kini menjabat sebagai wapres, mewakili sosok yang berpengalaman di bidang pemerintah, sementara AHY dinilai bisa menjadi wajah baru yang penuh semangat untuk bisa merangkul kaum muda.

"Pasangan ini bisa jadi representasi 2 hal. Tua-muda, pengalaman-semangat, sipil-militer, luar Jawa- Jawa, jadi representasi demografis dan kompetensi cukup terwakili. Hanya saja jika koalisi ini terbentuk, Jokowi akan kehilangan partner yang cukup kuat yaitu JK," tutur Rico.


Dari sisi keterpilihan, JK dan AHY dinilai cukup mampu. Dari berbagai survei elektabilitas, kata Rico, nama keduanya masuk di jajaran yang cukup unggul.

"JK dan AHY selalu masuk 10 besar elektabilitas capres. Hanya saja keseriusan JK untuk masuk gelanggang masih diragukan banyak orang," ucap dia.

Soal kemungkinan Golkar keluar dari koalisi Jokowi untuk mengusung JK bersama Demokrat, Rico menilai bukan berarti tidak mungkin. Apalagi elektabilitas Golkar belakangan kalah dari Partai Gerindra yang siap mengantar kembali sang ketum, Prabowo Subianto ke Pilpres.

"Saya pikir suara Golkar adalah suara rakyat, bila arus rakyat mengganti Jokowi menguat, bukan mustahil Golkar juga ikut. Dan ada lagi pertimbangn lain, eksistensi suara partai 2019, sekarang saja suara PDIP dan Gerindra jauh melesat meninggalkan Partai lain termasuk Golkar," urai Rico.

"Kalau Golkar mau gambling, dengan tokohnya sendiri, mungkin elektabilitas Golkar akan membaik," tambah dia.


Video Siapa pun Capresnya, Demokrat: AHY Bisa Dongkrak Elektabilitas

[Gambas:Video 20detik]


(elz/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed