Pengiriman Ayam dari Solo ke Jabotabek Anjlok 30% Lebih
Rabu, 20 Jul 2005 17:04 WIB
Solo -
Pengiriman ayam kampung ke Jabotabek dari Pasar Unggas Semanggi, Solo, mengalami penurunan permintaan mencapai lebih dari 30%. Faktornya jelas karena flu burung yang telah menewaskan tiga warga di daerah itu.Dari pasar ini dalam kondisi normal tiap harinya bisa mencapai 10 hingga 15 ribu ekor ayam kampung dikirim ke Jakarta dan sekitarnya. Namun setelah ada pemberitaan santer tentang kematian Iwan Siswara Rapei dan dua anaknya karena terinfeksi virus flu burung, permintaan pengiriman langsung anjlok."Biasanya dua hari sekali saya mengirim ayam rata-rata 2.500 ekor, sekarang ini paling banter cuma 1.500 ekor. Bahkan kadang sangat kurang dari itu. Hal seperti ini juga pernah terjadi dulu saat ada berita merebaknya flu burung. Tapi kalau sedang tidak ada wabah, kami selalu kewalahan memenuhi permintaan dari Jakarta," ujar Redjo Sumarto, seorang pedagang ayam di pasar unggas tersebut, Rabu (20/5/2005)."Kalau harganya masih stabil tapi pengurangan pesanan sangat mempengaruhi pendapatan. Padahal ayam-ayam yang kami kirim ke Jakarta dan sekitarnya ini jelas santat sehat dan tidak terkena penyakit yang kami datangkan dari berbagai daerah di Jawa Timur yang bebas dari flu burung. Tetapi kalau memang permintaan di pasar demikian ya apa boleh buat," lanjutnya.Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi meluasnya penyakit tersebut. Sebab jika tidak, dikhawatirkan flu burung akan meluas dan membunuh sebagian besar ternak milik petani, terutama yang berada di desa-desa yang lambat dalam memperoleh informasi.Para pedagang juga mengaku akhir-akhir ini sering kesulitan mendapat pasokan ayam kampung dari peternak di desa. Dimungkinkan masyarakat pedesaan masih jarang yang memelihara ayam kampung karena trauma atau bahkan karena kesulitan mendapatkan bibit kembali setelah diterjang flu burung secara besar-besaran dua tahun lalu.
(nrl/)










































