DetikNews
Selasa 12 Juni 2018, 21:12 WIB

Ramadan 2018

Danjiki Rasa Indonesia

Nadhira Asiyah Arrin - detikNews
Danjiki Rasa Indonesia Acara buka puasa bersama (Foto: dok. pribadi)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Beppu - Bagi saya, Ramadan kali ini sangat berbeda dengan pengalaman berpuasa saya di tahun-tahun sebelumnya lantaran saat ini saya sedang menempuh studi di Jepang, tepatnya di Beppu, sebuah kota kecil di Pulau Kyushu.

Sebenarnya menjalankan rukun Islam ketiga itu jauh dari keluarga bukanlah hal yang asing semenjak saya masuk pondok. Namun, menjalankan Ramadan di negeri yang muslimnya minoritas, menciptakan sensasi tersendiri. Untuk kebanyakan mahasiswa Indonesia tahun pertama di kampus saya, Ramadan di Jepang menjadi pertama kalinya seumur hidup.

Pengalaman pertama ini dimulai sejak menantikan awal Ramadan. Kalau di Indonesia tinggal menonton TV yang semarak dengan pemberitaan hasil sidang isbat, di sini kami hanya bergantung pada imam masjid yang juga menunggu keputusan dari pemerintah Malaysia, sebagai negara Islam terdekat dengan Jepang.



Saat puasa mulai berjalan, tidak ada protes ketika restoran buka di siang hari seperti di Indonesia. Contohnya, di kantin kampus Ritsumeikan Asia-Pacific University (APU) tempat saya berkuliah, di jam makan siang tetap sesak oleh orang-orang yang lahap menyantap makan.

Atmosfer puasa tidak terasa karena tidak terlihat suasana sama-sama menahan hawa nafsu. Diperlukan kekuatan iman lebih untuk menangkal berbagai godaan yang menghampiri.

Agenda ngabuburit dengan berbagai perkumpulan, mulai alumni sekolah, teman kerja, hingga ibu-ibu arisan, tak ditemukan di sini. Namun di beberapa masjid, Beppu memiliki acara buka puasa bersama setiap hari yang tak kalah meriah.

Danjiki Rasa IndonesiaMasjid Central Kyushu (Foto: dok. pribadi)


Beppu menampung ribuan mahasiswa internasional dari ratusan negara. Jadi kesempatan berinteraksi di antara penduduk muslim dengan beragam latar kebudayaan terbuka lebar di sini.

Kegiatan ini juga menjadi mediator antara masyarakat setempat dan mahasiswa nonmuslim untuk mencicipi hidangan halal berbagai negara, sekaligus mengenal Islam lewat komunikasi tatap muka.

Berpuasa di Jepang ternyata tak kalah seru dibandingkan dengan di Indonesia. Respons masyarakat setempat dalam menyambut keberadaan muslim dan antusiasme mahasiswa berbeda kepercayaan menyikapi teman yang berpuasa menjadi pengalaman berharga yang belum tentu dapat dirasakan di kampung halaman.

Danjiki Rasa IndonesiaBuka puasa bersama lintas agama dan budaya. (Foto: dok. pribadi)


Mendapati nonmuslim yang ikut berpuasa juga bukan hal aneh. Beberapa di antara mereka malah terlihat lebih bersemangat menjalankannya. Puasa dalam bahasa Jepang disebut danjiki.

Alasan mereka ikut danjiki juga beragam. Ada yang merasa hal ini patut dilakukan sebagai wujud toleransi, ada yang iseng menjajal kemampuannya menahan lapar dan haus, ada juga yang mulai tertarik sedikit demi sedikit mengenal Islam.

Bagi saya pribadi, fenomena ini memacu semangat saya untuk terus mengerjakan amalan-amalan di bulan suci ini. Melihat mereka tidak mengeluh dan mencoba bertahan melakukan danjiki seperti muslim menampar saya, yang beberapa hari sempat uring-uringan karena sempat mengeluh harus berpuasa di tengah kesibukan berkuliah.

Berbuka di masjid adalah pilihan yang sangat tepat bagi mahasiswa rantau. Selain makan gratis, kita dapat memperkaya referensi kita dengan berbicara santai degan orang-orang dari berbagai kalangan.

Hidangan berbuka puasa. Hidangan berbuka puasa. (Foto: dok. pribadi)


Jepang tidak hanya diisi oleh mahasiswa dari luar negeri, tetapi juga pekerja ekspatriat dan ibu-ibu rumah tangga yang mengikuti suami berdinas.

Beragam profesi ini juga yang menciptakan pola komunikasi yang unik sambil menunggu waktu berbuka. Berada di lingkungan muslim minoritas juga tidak menyurutkan semangat beramal di bulan Ramadan.

Dipimpin oleh seorang imam berkewarganegaraan Pakistan berbacaan fasih, kami melakukan tarawih berjemaah dengan khusyuk di masjid dekat rumah.

Mengenal orang dari berbagai latar belakang juga membuat saya tahu bahwa budaya Indonesia sedikit berbeda dengan negara Islam lainnya. Contohnya, di Bangladesh dan Uzbeksitan, perempuan lebih utama melakukan segala aktivitas di rumah, termasuk salat dan berbuka puasa.

Alhasil, bagi kebanyakan mahasiswa yang berasal dari kedua negara ini, berbuka puasa berjemaah di masjid dan bertemu dengan banyak orang menjadi hal baru bagi mereka.



Berbaur dengan bermacam-macam jenis manusia juga memperkaya wawasan toleransi. Meski masyarakat Jepang tergolong homogen, bercampur dengan anak-anak dari bangsa lain juga mengingatkan saya pada Indonesia. Berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan.

Makanan dari berbagai negara. Makanan dari berbagai negara. (Foto: dok. pribadi)


Perbedaan di setiap perbuatan dan kebudayaan tak menjadi alasan untuk saling menghujat. Jangan kira dengan tinggal jauh dari Tanah Air, kebiasaan di Indonesia tak bisa dilestarikan.

Kami tetap bisa menyemaikan rasa cinta kepada Ibu Pertiwi meski jarak tak dapat dikategorikan dekat. Apa pun namanya, di mana pun puasanya, selalu ada cara untuk menghayati puasa dengan cara-cara unik. Meski namanya danjiki, selalu ada cara mengkreasikan cita rasa puasa menjadi keindonesiaan.


*) Nadhira Asiyah Arrin adalah mahasiswa Ritsumeikan Asia Pacific University dan anggota PPI Jepang.


*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dan PPI Dunia.



Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.

(rns/rns)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed