Derita Korban Tsunami
Musim Tanam yang Terlewati
Rabu, 20 Jul 2005 15:12 WIB
Banda Aceh - Areal persawahan di Desa Lampaya, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, hingga kini belum bisa ditanami. Selain masih menumpuknya pasir laut, sampah-sampah reruntuhan rumah, seng dan batang-batang pohon sisa tsunami juga masih berserakan. "Seharusnya, kami sudah memasuki musim tanam," ujar M. Fadrin (60), salah seorang warga, kepada detikcom, Rabu (20/7/2005). Bulan Juli, menurut M. Fadrin, merupakan bulan yang biasa digunakan warga untuk menggarap tanahnya untuk kemudian menyemai bibit padi. Tapi, tsunami telah memporak porandakan areal persawahan milik warga. Di desa ini, hampir 90 persen mata pencaharian penduduk adalah bertani. "Kami ini sudah turun temurun bertani. Meskipun ada yang pegawai negeri, tapi turun juga bertani," ungkapnya.Syukurnya, sejak dua minggu ini warga Lampaya dan sekitarnya diberi pekerjaan oleh PMI (Palang Merah Indonesia) untuk membersihkan aeal persawahan di sekitar Lampaya. Selain sampah-sampah mulai disingkirkan, warga juga mendapat upah Rp 35 ribu sehari."Kami berharap ada juga bantuan alat berat untuk mengangkat reruntuhan rumah yang masih ada ada dan juga batang-batang pohon yang besar. Karena kalau manual seperti ini, mungkin baru bersih tahun depan," akunya.Sebab, hingga saat ini, pasir dan lumpur laut yang kini menjadi lapisan terluar areal persawahan warga menyimpan banyak sampah sisa tsunami di lapisan bawahnya. Tak jarang, masih banyak reruntuhan beton rumah, seng yang terkubur di bawah pasir laut di sejumlah areal persawahan yang mereka bersihkan. Bahkan dalam dua pekan ini, mereka masih menemukan 5 kerangka manusia yang diperkirakan korban tsunami di bawah lapisan lumpur dan pasir."Dengar-dengar akan dibantu alat berat juga. Tapi sampai saat ini kami mengerjakan pembersihan areal sawah ini dengan cara manual. Kami sangat berharap bisa segera dibersihkan agar sawah bisa difungsikan lagi. Karena, di sinilah harapan kami untuk ke depannya," kata M.Fadrin lagi.Memang banyak NGO yang sudah memberikan bantuan ke Lampaya. Tapi, menurut dia, tak mungkin selamanya mereka menggantungkan harapan pada bantuan tersebut. M.Fadrin dan warga Lampaya lainnya yakin bahwa areal sawah tersebut masih bisa ditanami. "Yah, mungkin tidak tanam padi dulu. Bisa jadi jagung, atau palawija lainnya. Tapi, kami akan mengusahakan agar kami bisa kembali turun ke sawah. Lihatlah rumput-rumput liar itu, lebih hijau dari sebelum tsunami. Artinya, masih ada kemungkinan bisa ditanami," katanya bersemangat. Di desa yang diapit oleh pantai dan gunung ini, jumlah penduduk berkisar 1.200 jiwa. Diperkirakan, sekitar 200 jiwa meninggal dalam peristiwa gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Rumah yang hancur total sekitar 50 rumah. Sisanya, rusak parah, ringan dan sebagian masih utuh.
(asy/)











































