DetikNews
Senin 11 Juni 2018, 23:11 WIB

Tanya Jawab Islam

Menggabungkan Utang Puasa Ramadan dengan Puasa Sunah

Tim detikRamadan - detikNews
Menggabungkan Utang Puasa Ramadan dengan Puasa Sunah Foto: 20detik
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Jakarta - Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam. Di bulan ini, kaum muslim berusaha meningkatkan ibadah mereka, dengan harapan mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagai keutamaan dari bulan tersebut.

Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Abdul Moqsith Ghazali menyebutkan ibadah puasa bukanlah ibadah yang unik dan khusus bagi umat Islam. Ibadah puasa juga dilakukan oleh umat-umat terdahulu.



Seperti firman Allah yang disebutkan di dalam Alquran: Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumush shiyamu kama kutiba 'alal ladzina min qablikum la'allakum tattaqun.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah: 183).

Namun, pada kondisi tertentu, antara lain wanita yang datang bulan, sakit, atau musafir, ibadah puasa tidak bisa ditunaikan. Alhasil, mereka yang mengalami hal tersebut harus menunggu waktu lain atau membayar utang puasanya di bulan lain.

"Karena itu, jika umat Islam tidak bisa menyelenggarakan ibadah puasa karena berbagai hal yang dimungkinkan dari sudut syariat Islam, dia wajib mengganti di bulan-bulan berikutnya," ujar Moqsith.

Terkait ibadah puasa ini, rupanya masih banyak orang yang bertanya bagaimana kalau mengganti puasa Ramadan itu dibarengi dengan puasa-puasa sunah lainnya.

Misalnya, sambil melaksanakan puasa sunah Senin dan Kamis sekaligus diniatkan mengganti puasa Ramadan. Atau sambil berpuasa di bulan Syawal.

Dikatakan Moqsith, para ulama terdahulu sudah memberikan jawaban dalam bentuk kaidah fikih. Dinyatakan 'Idza ijtama amrani fii jinsin wahidin walam yakhtalif maqsuduhuma dakhala ahaduhuma alal akhar', jika ada dua perkara dalam satu jenis yang satu tidak menafikan yang lain, maka yang satu itu masuk kepada yang lain itu.

"Karena itu, jika umat Islam, kaum perempuan, laki-laki yang punya utang puasa, maka dia bisa mendapatkan pahala dari mang-qada (mengganti) puasanya. Sekaligus dia bisa mendapatkan pahala dari puasa sunah yang dilakukannya," tutur Moqsith.

Jadi menyelenggarakan satu aktivitas ibadah mendapatkan dua pahala ganda, yaitu pahala mengganti puasanya, juga mendapatkan pahala berikutnya, yaitu pahala menyelenggarakan ibadah sunah.



Bahkan tidak sedikit satu ibadah dengan tiga pahala. Dalam kasus seperti ini, umat Islam diperbolehkan untuk mengganti puasanya sekaligus diniatkan untuk melaksanakan puasa sunah.

"Inilah enaknya Islam, satu ibadah tapi dengan dua pahala. Tidak jarang mungkin umat agama lain iri, 'Kok bisa terjadi yang seperti ini.' Karena Islam banyak memberikan kemudahan kepada umatnya," tutup Moqsith.

Simak penjelasan lebih lengkapnya dalam sketsa berikut ini:



Saksikan program Tanya Jawab Islam, setiap hari pukul 17:35 WIB selama Ramadan di detikcom.



Tonton juga video spesial Ramadan lainnya tentang mengaji berikut ini:


(rns/rns)
FOKUS BERITA: Tanya Jawab Islam
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed