DetikNews
Senin 11 Juni 2018, 14:37 WIB

Ramadan 2018

Liburan ke Luar Negeri Saat Puasa, Berani Coba?

Ainel Firas - detikNews
Liburan ke Luar Negeri Saat Puasa, Berani Coba? Menghabiskan Ramadan di Fresno, California, AS. Foto: dok. pribadi
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Fresno - Saat berpuasa, banyak orang menghindari bepergian jauh karena takut tidak kuat dan ingin fokus ibadah. Padahal, puasa bukan halangan untuk traveling. Malah, kita bisa dapat pengalaman berkesan dengan menjalaninya.

Contohnya seperti yang saya alami saat Ramadan di tahun 2015. Ramadan kala itu, saya habiskan dengan berlibur di Amerika Serikat, tepatnya di kota Fresno, California.

Perasaan campur aduk menghinggapi sebelum tiba di Fresno. Tidak disangka, selama ini saya cuma dengar pengalaman teman berpuasa di luar negeri. Kali ini, saya sendiri yang menjalaninya.

Antara senang dan khawatir, saya sempat takut tidak sanggup berpuasa di sana. Tapi saya yakinkan diri bahwa ini adalah sebuah tantangan. Maka, Bismillahirahmanirrahim saya mantap tetap berlibur ke Fresno.



Seperti kebanyakan orang yang berpuasa di luar negeri, sejumlah tantangannya antara lain waktu berpuasa yang lebih panjang dibandingkan dengan di Indonesia. Puasa di Fresno itu sekitar 16,5 jam.

Jadi, imsak sekitar jam 4 pagi dan waktu berbuka puasa bisa pukul 8.30 malam. Lumayan, harus tahan-tahan godaan untuk tidak buka kulkas dan memasukkan es batu dan air ke dalam gelas hahaha.

Suasana jelang Magrib waktu Fresno sekitar pukul 20:30. Suasana jelang Magrib waktu Fresno sekitar pukul 20:30. Foto: dok. pribadi


Tantangan kedua, tidak seperti di Indonesia, di Fresno tidak ada suara azan penanda waktu berbuka dan waktu salat. Jadi ya harus cek sendiri di aplikasi Ramadan. Sebenarnya sih mudah, tapi karena biasa 'dimanjakan' dengan suara azan di Indonesia, perlu adaptasi ketika berada di negeri di mana muslim menjadi minoritas.

Berikutnya, yang cukup membuat repot adalah mencari makanan untuk sahur dan berbuka. Kalau untuk berbuka sih masih mending, karena waktu berbuka puasa masih masuk jam operasional restoran.

Makanan yang dibeli di salah satu resto yang buka 24 jam. Makanan yang dibeli di salah satu resto yang buka 24 jam. Foto: dok. pribadi


Namun itu pun, kalau makan malam di luar cukup terburu-buru menyantap hidangan, karena rata-rata restoran akan tutup pada pukul 10 malam, bahkan ada yang tutup jam 9 malam. Jadi biasanya saya minta take away alias dibungkus bawa pulang.

Nah, untuk makan sahur memang cobaannya sedikit lebih berat. Di sana, saya benar-benar berpuasa sendiri, sahur pun sendirian. Adapun teman yang tinggal satu apartemen dengan saya, tidak menjalankan puasa, jadi dia tetap tidur di jam ketika saya sahur.

Kalau tidak beli makan dari malam, ya harus cari makanan di jam sahur. Belum lagi harus mencari makanan yang terindikasi halal. Karena cukup sulit mencari restoran yang ada sertifikasi halalnya. Alhasil, saya mensiasatinya dengan sesekali memasak makanan sendiri.

Sesekali masak, bahannya sebagian bawa dari Indonesia.Sesekali masak, bahannya sebagian bawa dari Indonesia. Foto: dok. pribadi


Tantangan keempat adalah ketika melaksanakan tarawih. Masjid terdekat dari apartemen saya lumayan jauh. Transportasi umum di sana juga tidak terlalu aman. Demi kelancaran beribadah, saya pun tarawih di rumah. Jadi hanya sesekali saja saya tarawih berjemaah ke masjid.

Belum selesai sampai di sini, tantangan berikutnya adalah ketika berkumpul dengan teman-teman. Seringkali acara kumpul-kumpul dengan teman bertepatan dengan jam makan siang. Ketika yang lain makan dan minum, saya harus memberi pengertian pada mereka bahwa saya berpuasa.

Terkait hal ini, awalnya teman-teman saya merasa aneh dan khawatir melihat saya berpuasa. Reaksi mereka antara lain: 'untuk apa kamu puasa? kamu kan manusia, perlu makan dan minum' dan sebagainya.

Teman-teman di Fresno menghormati saya yang berpuasa. Teman-teman di Fresno menghormati saya yang berpuasa. Foto: dok. pribadi


Biasanya ya saya jelaskan sambil bilang kalau puasa adalah salah satu iman Islam, jadi harus dilakukan. Kedua, saya juga beritahu mereka kalau puasa itu justru jadi semacam cleansing atau pembersihan yang berguna mengeluarkan racun dari dalam tubuh.

Jika sudah dijelaskan demikian, biasanya mereka mengerti dan tidak memperdebatkan lagi. Satu hal yang berkesan buat saya, teman-teman di sana salut dan respek melihat kita bisa menjalankan puasa selama satu bulan penuh.



Tantangan terakhir adalah soal cuacanya. Di sana benar-benar berbeda dengan di Indonesia. Musim panas, benar-benar terasa panas hingga suhu mencapai 40 derajat Celcius. Udaranya pun kering. Jadi kalau keluar ketika siang hari, rasanya seperti ada hairdryer yang diarahkan langsung ke badan!

Bagaimana? Mendengar pengalaman seperti ini apakah kalian jadi tertarik berlibur sambil berpuasa? Yang jelas, buat kalian yang mau traveling sambil tetap menjalankan puasa, tak perlu ragu. Kuncinya, asal niat kuat, pasti kita mampu melewatinya.

Menikmati liburan sambil berpuasa. Menikmati liburan sambil berpuasa. Foto: dok. pribadi


Sambil liburan, sabar dan nikmati saja ibadah ini. Kalau dapat negara yang durasi waktu berpuasanya panjang, ada baiknya berkonsultasi ke ulama atau pemuka agama Islam setempat untuk mendiskusikan kesanggupan berpuasa.

Tips lainnya yang sangat penting, hadapi dengan senyuman. Yakinlah kalau balasan pahala dari Allah pasti setimpal. Selamat berpuasa teman-teman!


*) Ainel Firas adalah WNI asal Jakarta yang sering traveling baik di dalam maupun luar negeri.


Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.


(rns/rns)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed