Warga Merapi Siapkan Tumpeng Jagung untuk Mbah Petruk
Selasa, 19 Jul 2005 17:34 WIB
Solo - Ratusan warga dari dua kampung yang tinggal di perkampungan terdekat dengan puncak Merapi, Selasa (19/7/2005) siang sibuk latihan. Tapi tak lupa tumpang jagung untuk Mbah Petruk, penunggu Merapi, mereka siapkan.Para warga hari ini sibuk berlatih menghadapi situasi terburuk jika sewaktu-waktu terjadi letusan besar dari salah satu gunung berapi teraktif di dunia tersebut.Mereka adalah warga Dusun Sepi dan Dusun Kajor di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali. Dusun Sepi adalah pemukiman tertinggi warga lereng Merapi yang masuk daerah Boyolali. Rumah paling akhir di dusun itu tidak lebih dari 2 kilometer dari kepundan gunung yang beberapa hari terakhir meningkat aktivitasnya itu.Simulasi dilakukan oleh tim gabungan aparat pemerintahan dari kabupaten hingga desa dibantu TNI dan Polri. Kepala Kesbanglinmas Boyolali Albert Gintaryo yang memimpin simulasi mengatakan bahwa latihan itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk terhadap aktivitas Gunung Merapi.Dalam simulasi warga mendapat kode bahaya berupa bunyi sirine dari empat pos yang didirikan di dua dusun itu. Selanjutnya mereka dihimbau segera lari menuju TPS (tempat penampungan sementara) terdekat berupa gedung sekolahan atau fasilitas umum lainnya. Dari TPS mereka diangkut dengan kendaraan menuju TPA (tempat penampungan akhir) di lapangan Selo."Dari latihan ini diharapkan warga sudah tidak bingung lagi jika sewaktu-waktu menghadapi bencana dan kami dapat diketahui kecepatan mereka dalam menyelamatkan diri," papar Gintaryo.Dua dusun itu dihuni oleh sekitar 2045 jiwa. Mereka antusias mengikuti simulasi itu. Tak pandang usia dan jenis kelamin, mereka semua berlari berhamburan naik turun menyusuri jalanan desa yang belum beraspal. Bahkan ada pula beberapa warga usia lanjut yang ditandu untuk kepentingan simulasi tersebut.Kondisi AnehStatus Merapi hingga saat ini masih pada tahapan waspada. Bahkan beberapa hari terakhir dari catatan di posko pemantauan menunjukkan ada penurunan aktivitas. Namun petugas menilai kondisi Merapi saat ini berbeda dengan status waspada biasanya.Pos pengamatan di Jrakah mencatat, sejak tanggal 6 hingga 19 Juli ini gempa tektonik terbanyak terjadi pada tanggal 12 dan 16 Juli masing-masing 3 kali dalam sehari. Dua hari terakhir sudah tidak terjadi gempa tektonik lagi. Guguran maupun gempa ringan dan gempa vulkanik juga relatif menurun. Hari ini misalnya hingga pukul 10.37 WIB hanya terjadi sekali gempa vulkanik."Namun kondisi Merapi pada saat ini agak aneh karena berbeda dengan biasanya. Biasanya dalam kondisi seperti sekarang ini sudah diikuti dengan larva pijar dan api diam, tapi kali ini justru tidak. Kondisi ini justru membuat kami semakin waspada terhadap kemungkinan terjadinya aktivitas yang tiba-tiba meningkat tajam," ujar Triyono, salah seorang petugas pemantauan Merapi.Tumpeng Jagung dan Mbah PetrukSementara itu warga juga menyiapkan upacara spiritual yang secara turun-temurun telah diyakini mampu meredam kemarahan Mbah Kiai Petruk, penunggu puncak Merapi. Setiap malam Jumat setiap rumah menyiapkan sesaji berupa tumpeng nasi jagung, sayur hati batang pisang, ketela bakar, singkong bakar, kopi bubuk dengan gula batu, dan jadah bakar."Biasanya warga hanya membuat sesaji kepada Mbah Petruk pada malam Jumat Pon. Tapi karena ada peningkatan aktivitas Merapi, kini mereka menyediakan setiap malam Jumat. Selain itu juga diadakan ronda giliran untuk mengamati kondisi puncak gunung," ujar Saris Sudiharjo, Kadus Kajor yang membawahi dua dusun terdekat dengan puncak Merapi tersebut.
(nrl/)











































