DetikNews
Rabu 06 Juni 2018, 23:46 WIB

Kasus Via Vallen dan Gunung Es Pelecehan Seksual di Indonesia

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kasus Via Vallen dan Gunung Es Pelecehan Seksual di Indonesia Via Vallen (Ismail/detikHOT)
Jakarta - Komnas Perempuan mendapati tren peningkatan angka pelecehan seksual yang dialami perempuan lewat media sosial atau internet seperti yang dialami penyanyi Via Vallen. Namun hal ini diyakini masih sebagai fenomena gunung es karena masih banyak kasus yang belum terungkap.

"Masih belum (banyak yang mengungkap). Karena perempuan ini kan sudah terbiasa dari kecil disuruh diam, 'Nanti kamu jangan bongkar aibmu.' Jadi saya yakin lebih banyak. Jadi seperti gunung es saja," tutur komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny saat dihubungi, Rabu (6/6/2018).


Pada 2017, tercatat ada 91 kasus pelecehan perempuan yang dilaporkan ke Komnas Perempuan. Kasus yang dialami Via Vallen, kata Adriana, masuk ke dalam kategori cyber harrasment.

Cyber harrasment adalah tindakan pelecehan terhadap perempuan yang sifatnya mengganggu dan mengancam korban. Ada 20 kasus dan merupakan kategori kedua tertinggi dari data Komnas Perempuan.


Screenshot postingan Instagram Via Vallen terkait DM tak senonohScreenshot posting Instagram Via Vallen terkait DM tak senonoh (Foto: dok. Instagram Via Vallen)

Sebagaimana diketahui, Via Vallen sempat mem-posting direct message (DM) tak senonoh yang dikirimkan seorang pesepakbola pria lewat Instagram Story. Adriana membenarkan tindakan tersebut. Sebab, mengungkap hal tersebut ke publik juga sebagai bagian dari sanksi sosial untuk menimbulkan efek jera kepada si pelaku. Namun dia lebih menganjurkan kasus tersebut diproses lebih lanjut ke institusinya ataupun kepolisian.

"Jadi, kalau misalnya perempuan berani mengatakan kasus yang dialaminya, ini juga akan memberi efek jera kepada pelaku. Naming, shaming (terhadap pelaku) memang diperlukan," tuturnya.


Dihubungi terpisah, peneliti dari Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia, Irwan Hidayana, mengatakan secara umum ada banyak faktor yang mempengaruhi korban tak melapor terkait pelecehan seksual yang dialaminya.

Namun dia mencatat hal yang paling utama adalah karena faktor kultural yang menganggap seksualitas sebagai hal tabu dan standar ganda yang diterima perempuan yang jadi mayoritas korban pelecehan seksual.


"Kedua, korban yang kebanyakan perempuan mungkin masih malu untuk melaporkan itu, apalagi kalau pelecehan seksual itu ekstrem. Jadi dia malu. Hal yang berhubungan dengan seksualitas di masyarakat kita masih tabu," ucap Irwan.

"Bahwa pandangan perempuan harus jaga tingkah lakunya. Perempuan tak harus mengekspresikan soal seksualitas. Kalau misalnya kasus pemerkosaan atau kasus pelecehan fisik, orang kan bilangnya, 'Tingkah laku dan pakaian lu kaya gitu.' Sebagian masyarakat kita juga masih menerapkan standar ganda ketika bicara soal perempuan. Perempuan harus jaga moral, perilaku, dan lain-lain," sambungnya.


Berikut catatan data Komnas Perempuan soal pelecehan seksual lewat internet tahun 2017:
- cyber harrasment: 20 kasus
- cyber violence: 14 kasus
- cyber grooming untuk menipu perempuan sebagai korban: 1 kasus
- cyber harrasment untuk mengancam, mengganggu: 20 kasus
- illegal content: 16 kasus
- malicious distribution seperti ancaman distribusi foto atau video pribadi: 19 kasus
- rekrutmen untuk drug trafficking atau TPPO: 21 kasus.




Tonton juga video: 'Si 'Pemain Bola' Itu Belum Minta Maaf ke Via Vallen'

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed