"Beda pilihan itu biasa di negara demokrasi. Tapi membuat berita saya stroke, itu benar-benar keji. Kita berkompetisi. Habis kompetisi, mari berpelukan lagi," kata Edy saat berbuka puasa bersama insan pers di kediamannya, Jalan Karya Amal, Medan, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu (6/6/2018).
Didampingi cawagubnya, Musa Rajekshah, Edy mencontohkan soal isi pemberitaan yang berusaha memfitnah seseorang. Menurutnya, berkompetisi tidak perlu harus membuat berita fitnah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soal berita saya stroke, itu adalah fitnah yang keji. Ini pemberitaan yang mau menghancurkan peradaban Sumut. Nggak segitunya kali kalau berkompetisi," kata Edy.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Pangkostrad itu juga menyinggung soal peran media. Menurutnya, media massa menjadi aktor penting bagi sebuah peradaban. Media massa mampu mengubah nasib suatu bangsa dari yang buruk menjadi baik atau bahkan sebaliknya.
"Sekarang mari kita renungi, kita di Sumut ini mau ngapain. Tentu kita orang Sumut pasti ingin membawa peradaban yang baik bagi Sumut. Maka dibutuhkan peran penting media untuk membangun peradaban tersebut," kata Edy.
Selain itu, sambung Edy, baik-buruk sebuah peradaban bahkan sering bergantung pada kualitas media massa. Tampak hadir juga dalam kegiatan itu Ketua PWI Sumut Hermansjah, Sekretaris PWI Sumut Edu Taher, Teruna Jasa Said, relawan Eramas, unsur parpol, dan insan pers.











































