DetikNews
Senin 04 Juni 2018, 22:14 WIB

Ramadan 2018

Ramadan di Kolombo: dari Takjil hingga Lotre

Brenny Novriansyah Ibrahim - detikNews
Ramadan di Kolombo: dari Takjil hingga Lotre Foto: Bayu Satria Gumala
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kolombo - Bagi sebagian orang, waktu transit yang panjang sangat membosankan. Tapi tidak demikian bagi saya, ketika harus transit di Kolombo, ibukota Sri Lanka.

Negara yang disebut dalam cerita Ramayana dengan aktor Rahwana ini menyimpan banyak keunikan dalam tradisi dan budaya. Transit yang lama di Kolombo selama 22 jam memberi kesempatan bagi saya untuk mengunjungi komunitas muslim di kota tersebut.

Sama seperti di India, mayoritas muslim bermukim di kawasan perbelanjaan, mengingat kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang.

Di kawasan perbelanjaan Pettah dekat dengan terminal bus Gunasingapura, ada sebuah masjid yang sangat indah dengan keunikan bangunannya, bernama masjid Jami' Ul Alfar.



Masjid rupanya menjadi salah satu ikon wisata kota Kolombo. Meski diapit dengan ruko di kiri kanannya, masjid ini tampak megah dengan kaligrafi Arab yang menghiasi dinding-dinding masjid tersebut.

Masjid dengan motif bernuansa putih dan merah ini, terinspirasi dari bangunan kekaisaran Islam Mughal India. Dibangun sejak 1908, masjid ini menjadi masjid tertua di Sri Lanka yang dibangun oleh komunitas muslim Kolombo untuk memenuhi kebutuhan salat lima waktu dan salat jumat kaum muslimin.

Ramadan di Kolombo: dari Takjil hingga Lotre Foto: Bayu Satria Gumala


Masjid Jami' Ul Alfar mampu menampung lebih dari 1.500 jemaah dan terdapat 500 jemaah sholat lima waktu yang selalu ramai memadati masjid. Keunikan masjid ini adalah desainnya yang dirancang seorang arsitek yang semula dinilai tidak punya kapasitas, namun saat melihat karyanya, terlihat kehebatan sang arsitek.

Berdirinya masjid ini juga tak terlepas dari jasa seorang dermawan bernama Haji Omar Siddiq yang memberi bantuan wakaf pada 1975. Pada tahun tersebut, dimulailah pembangunan dan perluasan masjid ini.

Selama bulan Ramadan, masjid yang menjadi pedoman umat Islam Sri Lanka ini menyajikan lebih dari 1.000 takjil buka puasa yang dikoordinir oleh para pengurus masjid dan didanai oleh para dermawan dari kalangan jemaah. Menu takjil yang disediakan antara lain bubur nasi kari ayam, kurma, samosa, risol, dan air putih.

Tidak hanya kaum laki-laki, kaum hawa juga banyak yang memadati masjid ini di sore hari untuk menanti takjil buka puasa. Masjid yang tingginya lima lantai ini menyediakan ruang shalat tersendiri bagi kaum perempuan terpisah dari jemaah laki-laki.

Keunikan lainnya, jemaah diperbolehkan untuk tidur dan beristirahat di dalam masjid di bagian belakang. Tak heran, bak pemandangan kamp pengungsi, banyak jemaah yang tertidur menanti takjil.

Saya pun ikut duduk dan tertidur sejenak melepas lelah. Tak lama kemudian, pengurus masjid menghampiri setiap jamaah yang tidur untuk menuju ruang buka puasa. Mereka pun bergegas menuju tempat berbuka puasa dengan senyum bahagia.

Ramadan di Kolombo: dari Takjil hingga Lotre Foto: Bayu Satria Gumala

Usai menunaikan salat berjamaah di masjid yang cantik dengan taman air di dalamnya ini, saya berjalan menelusuri kota sambil menikmati hidangan kuliner khas Kolombo.

Tampak pemandangan aneh yang tidak biasa bagi orang Indonesia, yaitu penjualan lotre yang ramai dan penuh pengunjung meski di bulan Ramadan.

Awalnya saya mengira mereka menjual obat-obatan tradisional karena mereka menggunakan pengeras suara dan ramai orang berkumpul mengelilingi tempatnya.



Maklum, di Sri Lanka, lotre sepertinya legal dan diperbolehkan, sehingga banyak kita jumpai para penjual lotre di sekitar pusat perbelanjaan Pettah maupun di kawasan wisata pantai Gold Fish. Bahkan, tertulis di depan stall lotre, 'National Government Lottery'.

Ramadan di Kolombo: dari Takjil hingga Lotre Foto: Bayu Satria Gumala


Berdasarkan sensus tahun 2012, populasi muslim di Sri Lanka mencapai 9,6%, selebihnya adalah pemeluk Budha, Kristiani dan Hindu. Sama seperti di India, bulan Ramadan di Sri Lanka sama seperti hari-hari biasa, ramai dengan pedagang makanan meski di siang hari.

Hampir tidak dijumpai pamplet atau banner yang bertuliskan 'Selamat Menunaikan Ibadah Puasa' dalam bahasa Sri Lanka di jalan-jalan, kecuali iklan paket kue untuk Idul Fitri.

Meski demikian, keramahtamahan masyarakat Sri Lanka menjadikan kehidupan antar umat beragama mereka harmonis dan damai.


*) Brenny Novriansyah Ibrahim adalah pelajar Ilmu Politik Aligarh Muslim University, India dan Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah India


Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.
(rns/rns)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed