Wakil Ketua MPR: Belajarlah Pluralisme dari Orang Betawi

Mustiana Lestari - detikNews
Sabtu, 02 Jun 2018 21:20 WIB
Foto: MPR
Jakarta - Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani menilai masyarakat Betawi memiliki toleransi dan pluralisme yang luar biasa. Oleh karena itu, masyarakat bisa belajar dari karakter orang-orang suku Betawi ini.

"Untuk belajar pluralisme tidak perlu jauh-jauh. Belajarlah pluralisme dari masyarakat (orang) Betawi," kata Muzani dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/2/2018).

Saat menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada organisasi Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) di Kantor DPD Forkabi Jakarta Selatan, dia memberi contoh masyarakat (orang) Betawi yang sangat terbuka dan menerima perbedaan suku, ras, dan bahasa.

"Di Betawi (Jakarta) orang (pendatang) dari berbagai suku bisa hidup damai," ujarnya.

Muzani juga menilai masyarakat (orang) Betawi tidak pernah iri dengan orang dari daerah lain (pendatang). "Inilah contoh pluralisme masyarakat (orang) Betawi yang luar biasa," katanya.



Politisi Partai Gerindra ini menambahkan pada tahun 1945, penduduk Jakarta saat itu sekitar 500.000 jiwa. Sekarang, penduduk Jakarta diperkirakan sekitar 8 juta jiwa. "Orang Betawi senang menerima suku lain," ucapnya.

Karena itu Muzani mengajak untuk belajar pluralisme dan toleransi dari masyarakat (orang) Betawi. "Tidak usah jauh-jauh belajar tentang pluralisme, belajarlah dari masyarakat (orang) Betawi," tuturnya.

Hal ini kemudian dia hubungkan dengan pilar Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya perbedaan suku, agama, dan ras, merupakan sebuah takdir yang tidak perlu dipermasalahkan.

"Perbedaan dan kebhinnekaan Indonesia merupakan kekuatan," ujarnya.



Oleh karena itu, lanjut Muzani, bangsa Indonesia jangan mudah dipecah-belah dan diadu-domba karena keragaman dan kebhinnekaan.

"Kita tidak boleh dipecah-belah hanya karena keragaman dan kebhinnekaan. Sebab, memang ada usaha-usaha untuk memecah belah," tandasnya.

Sosialisasi Empat Pilar MPR ini, lanjut Muzani, bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang dilakukan Forkabi.

"Sosialisasi ini untuk menanamkan kesadaran yang kuat tentang Pancasila pada anggota Forkabi agar sebagai warga negara memiliki bangsa ini," katanya.



(mul/ega)