Muhammadiyah Ingin Masjid-masjid Ramah Difabel

Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Sabtu, 02 Jun 2018 19:34 WIB
Muhammadiyah ditemui penyandang disabilitas. (Samsudhuha Wildansyah/detikcom)
Jakarta - Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT) mendatangi PP Muhammadiyah untuk berdiskusi terkait hak-hak para kaum disabilitas dalam beribadah bersama di dalam masjid yang masih terabaikan. Dalam diskusi ini, JBFT juga membahas terkait kaum disabilitas yang mudik Lebaran dan terkadang masih kesulitan menggunakan toilet saat perjalanan mudik.

Anggota JBFT sekaligus inisiator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD), Cucu Saidah, mengatakan saat ini masih banyak masjid yang kurang men-support kaum disabilitas untuk ikut salat berjemaah. Adanya tangga yang tinggi dan tempat wudu yang sulit dijangkau menyulitkan kaum disabilitas, khususnya pengguna kursi roda.



"Soal akses disabilitas itu semua orang yang mau masuk berkegiatan di masjid itu bisa seperti yang lainnya tanpa hambatan. Itu intinya. Ada kemudahan, kemandirian, dan keamanan. Nah, masjid yang accessible itu adalah masjid yang secara bangunan terbuka bagi siapa pun yang ingin salat di sana, bagaimana pintu masuk, wudunya dan bagaimana ketersediaan running text kalau ada penceramah. Nah, hal-hal seperti itu," kata Cucu Saidah dalam diskusi di aula gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No 62, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018).

Cucu mengatakan, selain ketersediaan masjid yang men-support kaum disabilitas, sikap masyarakat juga harus diubah. Menurutnya, selama ini masyarakat berpikir kaum disabilitas yang menggunakan kursi roda membawa najis atau kotoran yang menempel di kursi roda itu sehingga kaum disabilitas kesulitan ikut salat berjemaah di dalam masjid.

"Yang penting juga aksesibilitas sikap dari para imam masjid. Masih banyak imam yang anggap kursi roda kotor dan najis sehingga pengguna kursi roda kadang kala seperti suami saya kalau salat Jumat atau tarawih itu dia disuruh di luar dibanding di dalam karena dianggap kotor dan najis," kata Cucu.

"Pemikirannya baru masih di situ, padahal kalau di Mekah salat masuk ya masuk saja karena kita tahu kalau kursi roda kita kotor menginjak sesuatu kita tahu," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris PP Muhammadiyah Ustaz Ahlan mengatakan sebetulnya kasus disabilitas yang tersingkirkan saat beribadah di masjid sudah ada sejak zaman Nabi. Dikatakannya saat itu Nabi sempat tak mempedulikan kaum disabilitas tetapi mendapat teguran dari Allah.

Langkah selanjutnya dari PP Muhammadiyah, dikatakan Ahlan, PP Muhammadiyah akan mengkaji dari segi fikih dan menyebarkan imbauan kepada masjid-masjid agar memudahkan kaum disabilitas ikut melaksanakan salat berjemaah.

"Kita jelas mulai mengkaji dari segi fikihnya. Disabilitas kita kaji dan kita sebarkan supaya mereka yang punya masjid direnovasi masjidnya untuk kepentingan disabilitas. Mungkin itu rekomendasi besar yang akan kita keluarkan di bawah pimpinan kita Dahnil Anzar," kata Ahlan.

Dalam diskusi ini, JBFT juga menyoroti mudik lebaran kaum disabilitas yang dinilai masih kurang mendapatkan hak-haknya. JBFT sendiri memiliki gerakan bernama Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) yang sudah memasuki tahun ketiga. Tugas MRAD sendiri memberangkatkan kaum disabilitas mudik dengan dana yang dibantu oleh bank syariah.

JBFT menyoroti hak kaum disabilitas yang tidak didapatkan saat mudik, yakni toilet di rest area. JBFT juga menyoroti angkutan umum yang belum support membawa pemudik disabilitas ke kampung halaman masing-masing.

"Idealnya, kereta api itu harus accessible karena kita pakai nggak hanya pas mudik saja. Di sini kita ingin ada kereta api yang accessible, kereta api yang misalnya pengguna kursi roda bisa masuk ke gerbong tanpa hambatan dan ada toilet yang accessible. Nah, sekarang kan belum ada," kata Cucu.

"Toilet umum (di rest area) juga. Seberapa banyak toilet umum yang asesibel waktu kita mudik?. Sering kali ada tapi kadang dikunci. Ketika menjadi penyandang disabilitas kita hak untuk ke toilet ada itu udah tercabut," imbuhnya.

Melihat dua hal yang dikeluhkan penyandang disabilitas itu, Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial, Rachmat Koesnadi, dalam diskusi yang sama mengatakan tidak bisa berkomentar dan hanya bisa mendengar keluhan itu karena dia baru menjabat sebagai Direktur Rehabilitasi Sosial kurang-lebih satu bulan. Ia mengatakan hal itu akan menjadi PR untuk Kemensos.

"PR besarnya untuk dinas kabupaten ya seperti mau masuk ke masjid nggak perlu pakai kayu, ya. Jadi dibikin landai saja tangganya. Kemensos masih punya dua mobil akses ya, tahun ini kami menyiapkan 4 lagi untuk akses apakah untuk kebutuhan komunitas atau hal-hal lainnya oleh penyandang disabilitas," imbuhnya. (bag/bag)