DetikNews
Jumat 01 Juni 2018, 13:02 WIB

Hari Lahir Pancasila

Sukarno, Islam Sontoloyo, dan Air Kencing Unta

Aryo Bhawono - detikNews
Sukarno, Islam Sontoloyo, dan Air Kencing Unta Sukarno dan Islam Sontoloyo (Kolase Foto: Nadia Permatasari W)
Jakarta -

Sukarno pernah dibuat gerah oleh ajaran Islam yang hanya mengedepankan formalitas. Ia menyebut ajaran ini tak menangkap api Islam, melainkan hanya abunya.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Neng Dara Affiah, menyebutkan pemahaman Islam sebatas label ini disinggung dalam tulisan-tulisan Bung Sukarno yang dimuat dalam 'Pandji Islam', 1940. Islam semacam ini justru menjauh dari Alquran dan hadis.

"Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik di dalam tuan punya pikiran, maka tidak banyak orang yang menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata: tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir!" tulis Sukarno dalam salah satu edisi dalam 'Pandji Islam'.

Affiah menyebutkan Islam sekadar label ini masih berkembang dan justru menguat belakangan. Ukuran Islam hanya dilihat dari pilihan politik, keberpihakan kepada calon pemimpin seagama, bahkan sekadar dilihat dari cara berpakaian.

Sebagian orang Islam pun menyalahartikan ajaran agama dengan budaya Arab. Mereka sekadar meniru budaya Arab. Bahkan mereka mengesampingkan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan.

"Ini yang dimaksud dengan gagal menangkap api Islam. Bung Karno menyebut ini sebagai 'Islam Sontoloyo'," ujar Affiah saat berbincang di Megawati Institute, Rabu, 30 Mei 2018.

Menurutnya, sikap semacam ini justru membawa Islam pada kemunduran zaman. Sikap kaku yang ditunjukkan sebagian umat akan membawa kepada kepatuhan tanpa daya kritis (taklid) dan justru mempercayai hadis yang lemah tanpa memahami sejarah.

"Misalnya saja soal khasiat air kencing unta. Ini dipercaya sebagai pengobatan sampai membawa-bawa hadis tanpa mempertimbangkan kemajuan teknologi dan persebaran penyakit," jelasnya.

Buku 'Sukarno dan Modernisme Islam' yang ditulis oleh M. Ridwan Lubis menyebutkan sikap progresif Islam ditunjukkan oleh Sukarno tak hanya melalui tulisan. Saat diasingkan di Bengkulu, Sukarno pernah meniru sikap Haji Agus Salim menolak penggunaan tabir perempuan saat pengajian. Ia pergi dari sebuah masjid tempat pengajian Muhammadiyah yang tak mau melepas tabir.

Sukarno pun memandang tabir sebagai lambang perbudakan perempuan. Islam di masa itu seharusnya sudah mengesampingkan perbudakan ini.

Sikap kritis Sukarno terhadap Islam sendiri tak menunjukkan sikap politik anti-Islam. Direktur Yayasan Denny JA, Novrianto Kahar, menyebutkan ia melihat HOS Tjokroaminoto mengelola kehebatan Islam untuk memobilisasi masa. Sukarno pun mencontoh sikap Tjokroaminoto untuk mendapatkan dukungan Islam dalam melawan kolonialisme.

Menurutnya, api Islam yang dimaksud Sukarno dimanfaatkan untuk mendukung gerakan politik pada masa pergerakan nasional dan revolusi bersenjata. Tetapi mobilisasi ini ditempatkan sesuai dengan zamannya menentang kolonialisme dan imperialisme.

"Bagi Sukarno kemudian agama adalah peluang mobilisasi massa untuk melawan kolonialisme dan imperialisme," jelasnya.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed