Sisi Lain Artidjo: Tak Pernah Cuti dan Patah Hati ke Gadis New York

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 29 Mei 2018 20:40 WIB
Artidjo Alkostar (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Ketukan palu Artidjo Alkostar yang membuat para koruptor bergidik purna sudah. Jabatan hakim agung yang diemban selama 18 tahun pupus setelah Artidjo pensiun pada 22 Mei lalu.

Namun, cerita tentang kesederhanaan Artidjo hingga sisi lain kisah asmaranya tak lekang. Mulai dari penolakan gaji 9 bulan berturut-turut hingga keikhlasannya bekerja tanpa pernah mengajukan cuti.

Berikut kisah Artidjo seperti dikutip detikcom dari buku 'Alkostar, Sebuah Biografi' terbitan Kompas Media Nusantara:

1. Gaji 9 Bulan Berturut-turut yang Tak Pernah Dinikmati

Artidjo dilantik menjadi hakim agung pada September 2000. Namun setelahnya Artidjo terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk mengambil short course di Northwestern University selama 9 bulan.

Saat pulang ke Tanah Air, Artidjo pun mendapatkan gaji selama 9 bulan yang belum diambilnya. Namun Artidjo menolak karena merasa gaji itu bukanlah haknya.

"Artidjo sama sekali tak merasa bekerja sehingga ia merasa tak berhak mendapatkan gaji," demikian tulis buku tersebut di halaman 86.

Sayangnya sikap Artidjo itu dikhawatirkan berimbas pada hakim agung lain. Akhirnya gaji 9 bulan itu diambil Artidjo tetapi tak digunakannya, melainkan disumbangkan untuk pembangunan masjid di Mahkamah Agung (MA).

Persoalan muncul lagi lantaran pembangunan masjid itu juga mendapat sumbangan dari hakim seluruh Indonesia. Ketua Bagir Manan menasihatinya agar uang itu tak disumbangkan seluruhnya.

Artidjo manut. Namun uang itu tak masuk ke kantong pribadinya. Sebagian dari 9 bulan gajinya itu dibagikan ke masjid di kampung halamannya di Situbondo dan Madura.


2. Ditolak Masuk MA Karena Naik Bajaj

Di awal masa kerjanya, Artidjo tinggal di rumah kontrakan di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Untuk berangkat kerja, Artidjo naik bajaj hingga sampai di Mahkamah Agung (MA).

Namun bajaj yang ditumpangi Artidjo ditolak masuk melalui gerbang depan MA. Akhirnya, Artidjo mengalah dengan melewati pintu gerbang samping.

Berbulan-bulan bekerja, Artidjo mendapat uang Rp 60 juta dari MA untuk membeli mobil. Diajaklah kawan sekontrakannya, Ari, untuk membeli mobil.

"Temani saya membeli mobil. Katanya jangan mobil bekas, harus baru," kata Artidjo dalam buku itu di halaman 141.

Artidjo kemudian diajak Ari ke showroom mobil mewah. Ari yang memang berniat 'mengerjai' Artidjo malah menunjukkan mobil Hummer. Artidjo pun marah dan beralih ke tempat lain hingga akhirnya membeli Chevrolet Spark berwarna perak. Artidjo menambah uang Rp 20 juta dari tabungannya.

Ari kemudian diberi uang Rp 1 juta untuk belajar nyetir mobil dan Rp 1 juta untuk membuat SIM. Ari akhirnya menjadi sopir pribadi hingga Artidjo pensiun.

3. Tak Pernah Cuti Selama Jadi Hakim Agung

Artidjo yang berawal dari aktivis jalanan memulai karier menjadi hakim agung. Stigma tak betah di kantor sempat disematkan Busyro Muqoddas pada Artidjo.

Namun pandangan itu dijawab Artidjo sebaliknya. Sejak menjadi hakim agung pada September 2000 hingga 22 Mei 2018, Artidjo tak pernah cuti.

"Saya bekerja itu ikhlas. Jadi kalau ikhlas akan menjadi nutrisi kesehatan. Tapi kalau bekerja tidak ikhlas akan menjadi ria. Racun dalam tubuh kita. Jadi semua tergantung kepada niatnya," kata Artidjo di halaman 200.

Sebenarnya dia pernah tak masuk kantor selama 9 bulan karena mendapat beasiswa di AS. Namun karena merasa tak bekerja, Artidjo tak mengambil gajinya yang selama 9 bulan itu.

"Saya merasa menyatu dengan hati dan untuk menyelesaikan pekerjaan ini," ujarnya.


4. Gadis The Big Apple yang Curi Hati Artidjo

Di tahun 1989, Artidjo menuntut ilmu di Columbia University, New York. Berbekal beasiswa, Artidjo menjalani hari demi hari di kota yang berjuluk The Big Apple itu.

Kebiasaan Artidjo sarapan di sebuah kafe berujung pada perkenalannya dengan seorang gadis berambut pirang sebahu bernama Michelle Banrout. Cinta pun bersemi.

"Ini toh di New York, bukan di Yogyakarta yang banyak mahasiswa UII-nya," kata Artidjo dalam hati seperti tertulis dalam buku karya Puguh Windrawan di halaman 83 itu.

Roman Artidjo berawal hingga berani memanggil pujaan hatinya dengan 'Minnesota Girl'. Sedang, panggilan sayang Michelle padanya yaitu 'Artichoke', diambil dari sebuah nama kafe di kota itu.

Asmara keduanya berlanjut ke jenjang yang lebih serius ketika Artidjo berkenalan dengan keluarga Michelle. Bersambut, si 'Minnesota Girl' mengiyakan ketika diajak Artidjo ke Situbondo untuk berkenalan dengan keluarganya.

Namun takdir berkata lain. Michelle batal ke Situbondo karena ada anggota keluarganya yang sakit. Mulai dari situ, Artidjo menjalani long distance relationship (LDR) dengan 'Minnesota Girl'. Meski awalnya kerap berkirim surat, tapi jarak dan waktu mengikis jalinan asmara keduanya.

"Artidjo memang bukan pribadi ekspresif. Dia cenderung pasif dan menunggu meski senang dengan film-film India bertemakan percintaan. Beberapa kali saya memergokinya menonton film-film dimaksud di bioskop Soboharsono dan Widya yang terletak di pojok Alun-alun Utara Yogyakarta pada 1980-an. Artidjo bukan juga pribadi kaku, tertutup dan suka memaksakan kehendak, melainkan luwes, terbuka dan sangat demokratis," ujar sahabat Artidjo, Suparman Marzuki. Suparman belakangan menjadi Ketua Komisi Yudisial (KY).



Tonton juga 'Pensiun, Artidjo Sang 'Algojo Koruptor' Kembali Jadi Orang Desa':

[Gambas:Video 20detik]

(dhn/gbr)