Adhyaksa Sarankan PA 212 Dekati Parpol untuk Ajukan Capres

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Selasa, 29 Mei 2018 14:45 WIB
Adhyaksa Dault (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - Mantan Menpora Adhyaksa Dault mengaku kehadirannya di Rakornas PA 212 karena mendapat undangan. Ia mengatakan diundang untuk memberi masukan dan pandangan dari segi politik dalam rakornas itu.

"Saya undangan aja. Saya diundang untuk memberikan masukan," kata Adhyaksa di Aula Sarbini, Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (29/5/2018).


Adhyaksa mengatakan, dalam rakornas itu, ia memberi masukan terkait tata cara penggantian presiden dan wakil presiden di Indonesia. Menurutnya, presiden harus diganti lewat jalan yang sesuai dengan konstitusi.

"Kalau ada keinginan untuk mempunyai presiden baru tahun 2019 ya yang dipakai konstitusional. Gimana caranya? Ya melalui pemilu kan. Pengajuan nama-nama program, nama-nama calon. Saya bilang kalau mau mengganti presiden itu ada koridornya, yaitu pada pemilu tahun 2019," ujarnya.


Namun, menurutnya, pengajuan capres dan cawapres bukan sekadar mengajukan nama saja. Adhyaksa mengatakan ada tata cara pola rekrutmen kepemimpinan nasional di Indonesia melalui sistem partai.

"Ya saya tadi juga dibagikan nama-nama calon presiden dan wapres. Saya lihat ada Eggi Sudjana, ada segala macam ya saya bilang pola rekrutmen sistem kepemimpinan nasional kita melalui sistem partai. Ya kan. Ini nggak mungkin bisa majuin. Karena nggak punya partai. Nah itu harus melalui partai," katanya.

Adhyaksa pun mengaku menyarankan agar PA 212 mendekati partai politik yang ada sebagai wadah aspirasinya. Agar capres-cawapres yang nanti didukung oleh PA 212 ini dapat disalurkan melalui parpol.

"Kalau ada calon-calon yang baik ya dimunculkan di sini ya disalurkan melalui parpol itu intinya. Parpollah. Seperti saya. Saya diminta oleh Gerindra untuk menjadi caleg. Kalau misalnya saya jadi caleg Gerindra ya saya harus ikut pada Partai Gerindra, atau misalnya saya ikut di PAN. Ikut Pak Zulkifli Hasan, maka saya harus mengajukan melalui PAN," tutur Adhyaksa.

"Jadi pola rekrutmen kepemimpinan nasional kita melalui sistem partai. Itu harus dimengerti oleh mereka. Nggak bisa perorangan mencalonkan presiden wakil presiden nggak bisa kan. Karena itu approach-lah kepada pimpinan-pimpinan parpol," lanjutnya.

Adhiyaksa juga mengaku mengingatkan PA 212 untuk tetap menghargai Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden. Ia pun kembali meminta PA 212 melakukan tahapan-tahapan yang diatur oleh konstitusi jika ingin mengganti presiden dan wapres.

"Pak Joko Widodo itu tetap presiden kita. Ya kan. Tetap presiden kita beliau. Secara resmi lho secara konstitusional. Kalau mau mengganti beliau ya menggantinya di pemilu juga," ucapnya. (haf/haf)