"Kalau HOTS akan terus kita gunakan, itu wajib belajar itu guru-gurunya juga kita lakukan pelatihan-pelatihan juga untuk pembelajaran HOTS, sekarang pelatihan kurikulum yang di lapangan itu sudah ada modul pembelajaran dan penilaian HOTS. Jadi itu jangan ditakutkan toh itu penalaran kan, sekarang orang kalau dengar HOTS itu kan penalaran belum berarti sulit namanya penalaran biar anak kita kreatif dan kritis," kata Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, di Perpustakaan Kemendikbud, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Loh menurun menurut daya efek UKP ke UNBK, bukan karena HOTS ya mungkin ada penurunan tingkat penalaran. Tapi menurut saya lebih banyak dari UNKP dulu tahun lalu kan 70 persen UNKP sekarang kebalik 63 persen UNBK sehingga begitu pakai UNBK drop 28 poin, saya lebih percaya itu bukan dikarenakan nilai HOTS," jelas dia.
Hal senada dikatakan Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno. Ia mengatakan sistem HOTS akan terus digunakan karena ini bertujuan mengembangkan daya nalar anak-anak.
"(Tetap) pakai, karena HOTS ini untuk membiasakan anak bernalar. HOTS itu adalah higher order thinking skills, bernalar kan itu mengembangkan daya nalar dan kalau anak sekarang belajar tidak menguasai HOTS dan sekolah nggak mengembangkan daya nalar itu salah," ucap dia.
Baca juga: Rata-rata Nilai UNBK SMP 2018 Turun |
"Sejak awal namanya pendidikan harus mengembangkan daya nalar dan anak-anak kita tidak bisa dididik seperti grilling gitu di tryout kasih rumus dan menerapkan saja bisa, tapi ketika harus menginterpretasikan kalimat panjang, paragraf panjang nggak paham, memahami kalimat sulit, memaknai kalimat sulit, menggunakan informasi sulit, loh apa hidup ke depan seperti itu? Hidup kan nggak menggunakan rumus tiap hari, tapi menggunakan informasi, mencernanya, menggunakannya untuk memecahkan persoalan bermodalkan konsep-konsep ilmu yang dimiliki HOTS," imbuh Totok.
Ketika ditanya apakah penurunan hasil nilai UNBK lantaran terpengaruh oleh sistem baru ini, Totok menjawab penurunan ini disebabkan belum terlatihnya para siswa dalam mengaplikasikan sistem yang baru seperti ini. Para murid juga diminta tidak sekadar menghafal suatu materi, tetapi juga memahaminya dengan saksama.
"Menurun mungkin karena belum terlatih. Maka harus dilatih sekolah itu bernalar jangan menghafal saja, tapi harus daya nalar juga," tutur dia. (aan/aan)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini