DetikNews
Sabtu 26 Mei 2018, 05:05 WIB

Anomali Politik Jokowi-SBY

Jabbar Ramdhani - detikNews
Anomali Politik Jokowi-SBY Presiden Joko Widodo menerima Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka beberapa waktu lalu (Foto: Anung/SBY Centre)
Jakarta - Relasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terbilang unik. Ketika bertemu keduanya tampak begitu akrab, tapi di lain waktu ada saja interaksi yang seolah membuat keduanya berjarak.

Belum lama ini, Jokowi sempat bicara soal BBM 1 harga. Jokowi menyinggung harga BBM di wilayah timur Indonesia 3,5 tahun lalu.

"Saya minta BBM 1 harga, terutama di Indonesia bagian timur. 3,5 tahun lalu saya ke Wamena, saya ke kampung, desa, saya tanya, 'Pak, di sini harga bensin berapa?' Di Wamena saat itu Rp 60 ribu per liter. Itu pas normal. Kalau cuaca nggak baik, bisa Rp 100 ribu per liter," kata Jokowi.


Hal itu diucapkan Jokowi dalam 'Workshop Nasional Anggota DPRD PPP' di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Selasa (15/5/2018).

Saat itu Jokowi lalu memerintahkan menteri terkait agar harga BBM disamakan dengan daerah-daerah lain. Hal itu berhasil dilakukan di saat subsidi BBM dicabut.

"Dulu subsidi Rp 340 triliun, kenapa harga nggak bisa sama? Ada apa? Kenapa nggak ditanyakan? Sekarang subsidi sudah nggak ada untuk di BBM, tapi harga bisa disamakan dengan di sini. Ini yang harus ditanyakan. Tanyanya ke saya, saya jawab nanti. Ini yang harus juga disampaikan ke masyarakat," sambung Jokowi.


Tak selang lama, SBY bereaksi. Melalui cuitan berseri SBY menanggapi pidato Jokowi soal BBM tersebut. Ada 5 tweet yang dibuat SBY Selasa (15/5) malam.

"Saya mengikuti percakapan publik, termasuk di media sosial, menyusul pernyataan Presiden Jokowi yg salahkan kebijakan SBY 5 th lalu. Pak Jokowi intinya mengkritik & menyalahkan kebijakan subsidi utk rakyat & kebijakan harga BBM, yg berlaku di era pemerintahan saya. *SBY* *SBY* Saya minta para mantan Menteri & pejabat pemerintah di era SBY, para kader Demokrat & konstituen saya, TETAP SABAR. *SBY*," kata SBY lewat akun Twitter @SBYudhoyono.

"Justru kita harus bersatu padu. Juga makin rukun. Jangan malah cekcok & beri contoh yg tak baik kepada rakyat. Malu kita. *SBY*. Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tak perlu & tak baik di mata rakyat. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi masalah keamanan, politik, & ekonomi. *SBY*," sambungnya.


Pidato soal BBM itu pun berbuah amarah dari kader Demokrat. Kader Demokrat meminta agar SBY, yang merupakan ketum partai berlambang bintang mercy itu, untuk menjauhi Jokowi.

Kader Demokrat bahkan meminta rencana berkoalisi untuk mendukung Jokowi di Pilpres 2019 dibatalkan. Mereka beranggapan tak etis jika Jokowi mempermasalahkan kebijakan masa lalu yang sudah baik dan disetujui DPR pada masanya.

Terbaru, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada SBY karena telah mencanangkan pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Hal itu disampaikan lewat akun Instagram Jokowi.


"Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Susilo Bambang Yudhoyono, Pak Ahmad Heryawan dan jajarannya, yang sudah mencanangkan sejak lebih dari satu dekade lalu," tulis Jokowi, Kamis (24/5) kemarin.

Jokowi mengatakan, baik SBY maupun Aher punya peran penting dalam terbangunnya bandara warga Bumi Parahyangan ini. Menurut Jokowi, SBY dan Aher bagian tak terpisahkan dari pembangunan bandara tersebut.

Ada penilaian, sebenarnya ucapan terima kasih Jokowi itu mengandung sindiran. Dalam ucapan terima kasih itu, ada kata 'satu dekade' sebagai keterangan durasi pengerjaan proyek ini sampai jadi.


Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai kalimat Jokowi itu memang bisa dimaknai bermacam-macam. Pertama, kalimat Jokowi bisa dimaknai sebagai ucapan yang benar-benar tulus, lurus, tanpa tendensi ingin menyentil siapapun.

Kedua, kalimat Jokowi bisa dimaknai sebagai satire versi halus. Artinya, proyek Bandara Kertajati ini tidak jadi-jadi selama satu dekade dan bisa diselesaikan oleh Jokowi dalam waktu beberapa tahun saja.

Namun, di luar anomali politik Jokowi-SBY, beberapa momen hangat terjadi saat keduanya bertemu. Setelah datang ke acara pelantikan Jokowi pada tahun 2014, SBY sempat beberapa kali datang dan berbincang bersama.


Pertemuan keduanya juga pernah terjadi di luar Istana. Salah satunya saat peresmian Gedung Merah Putih KPK.

Kehangatan Jokowi-SBY juga tampak pada pembukaan Rapimnas Partai Demokrat, Sabtu (10/3/2018). Jokowi yang saat itu masuk ke lokasi bersamaan dengan SBY disambut hangat kader Demokrat. Jokowi juga sempat menyalami beberapa kader Demokrat.

Dalam pidatonya, SBY mengatakan Demokrat bisa berjuang dengan Jokowi bila Allah menakdirkan. Sementara itu, Jokowi menyebut dirinya adalah seorang Demokrat. Itu untuk menepis anggapan bahwa dia seorang otoriter.

Lantas, bagaimana cerita relasi politik selanjutnya dari Jokowi-SBY?



Tonton juga 'Akhirnya, Mereka Bertemu Juga':

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/ams)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed