DetikNews
Kamis 24 Mei 2018, 21:50 WIB

BIN Sebut Gagal Paham soal 3 Hal Ini Jadi Biang Keladi Terorisme

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
BIN Sebut Gagal Paham soal 3 Hal Ini Jadi Biang Keladi Terorisme Ilustrasi (Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut ada tiga penyebab terorisme tumbuh subur di Indonesia. Ketiga hal itu berpangkal dari pemahaman agama yang keliru.

"Perlu dicatat bahwa kesemuanya ini hanya tiga permasalahan yang menjadi biang keladi dari terorisme di Indonesia. Yang pertama, pemahaman jihad, pemahaman takfir, yang ketiga pemaknaan thogut," kata Kepala Subdirektorat Kontraterorisme Wilayah Barat BIN, Kombes Deden, dalam diskusi di Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (24/5/2018).



Menurut Deden, persoalan pertama adalah sebagian orang keliru dalam memaknai arti jihad. Bagi kelompok teroris, makna jihad itu dipersempit hanya menjadi jihad qital (perang).

"Pemaknaan jihad mereka persempit. Jadi jihad itu kayak membuang duri, itu bukan jihad. Pengertian jihad menurut kelompok yang tergabung dalam radikalisme dan terorisme ini adalah jihad qital," papar Deden.

Kedua, kelompok teroris keliru dalam memahami arti takfir. Menurut Deden, mereka meyakini bahwa setiap orang yang berbeda paham dapat dibunuh.



"Takfir tadi disampaikan, takfir itu walaupun sesama Islam. Buat kelompok dia, berseberangan pahamnya dengan dia, takfir, halal darahnya dan sebagainya. Jadi kunci permasalahannya tiga saja," tuturnya.

Terakhir, teroris juga memperluas makna thogut. Beberapa pejabat, menurut Deden, bahkan dianggap thogut oleh kelompok tersebut.

"Makna thogut juga diperluas, pembuat UU dan sebagainya. Kesirikan-kesirikan dan sebagainya," ujarnya.

Deden lantas memaparkan soal sumber berkembangnya aksi terorisme. Dia berpendapat terorisme muncul dari produk dalam negeri dan luar negeri.

"Produk lokal kita ketahui bersumber dari paham Negara Islam Indonesia Kartosuwiryo. Kemudian paham luarnya dari salafi, jihadi. Yang awalnya dari wahabi. Salafi kemudian jadi wahabi. Kemudian ada salafi, jihadi dalam perkembangannya," ucapnya.

Deden juga sempat menyinggung beberapa organisasi di Indonesia yang terindikasi disusupi pemahaman radikalisme. Meski tak secara gamblang, Deden menyebut organisasi itu berada di dekat masyarakat Indonesia.

"Organisasi yang saat ini, apa namanya, selalu berdekatan dengan kita semua, bersentuhan dengan kita semua, walaupun memang tadi ada yang paling mengancam negeri kita adalah yang berpaham atau yang mempunyai pemahaman takfiri," tuturnya.
(mei/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed