Bawa Kayu & Batu, 10 Ribu Orang Datangi Gedung Jemaat Ahmadiyah
Jumat, 15 Jul 2005 15:41 WIB
Bogor -
Sekitar sepuluh ribu orang yang menamakan diri Gerakan Umat Islam Indonesia (bukan FPI seperti yang diberitakan sebelumnya-Red) sudah berada di depan Kampus Mubarak Sekretariat Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah. Mereka mengancam akan menghancurkan markas tersebut, bila pemerintah tidak membubarkan aliran Ahmadiyah. Massa tiba di depan kompleks gedung yang terletak di Jl. Raya Parung-Bogor, Kampung Udik, Kemang, Kabupaten Bogor ini sejak pukul 13.50 WIB, Jumat (15/7/2005). Sebagian besar dari mereka mengenakan jubah putih, besorban, dan berpeci. Selain membawa sejumlah poster yang berisikan tuntutan pembubaran Jemaat Ahmadiyah, massa juga membawa bendera Palestina dan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, Laa Ilaha Illallah. Massa juga membawa kayu, bambu, besi, dan batu. Massa yang dipimpin Habib Abdurrahman ini melakukan long march dari Masjid Al Hidayah, Jampang, sekitar 500 meter dari gedung Jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya, massa memang berkonsolidasi di masjid ini seusai salat Jumat. Massa memang bukan warga yang tinggal di dekat gedung Jemaat Ahmadiyah itu. Mereka datang dari berbagai daerah. Saat long march, mereka menerobos rombongan Kapolres dan sejumlah ulama dari Bogor yang sebenarnya akan mengajak mereka negosiasi. Massa juga berhasil menerobos barisan Polwan. Kini, situasi di depan Kampus Mubarak tampak tegang. Ratusan polisi siaga di depan gedung tersebut. Sementara gerbang gedung itu ditutup rapat dan digembok. Police line juga dipasang di gerbang tersebut. Tidak terlihat satu pun warga Jemaat Ahmadiyah di sekitar gerbang. Saat berorasi di depan massanya, Habib Abdurrahman memberi batas waktu kepada pemerintah Kabupaten Bogor untuk membubarkan kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Paling lambat pukul 16.00 WIB. Bila deadline itu terlewati, maka massa akan menghancurkan gedung-gedung yang berdiri di lahan yang cukup luas itu. "Kalau pukul 16.00 WIB saya mengangkat tongkat saya, maka tidak ada yang dapat menghentikan kita," kata Habib Abdurrahman.
(asy/)










































