DetikNews
Kamis 24 Mei 2018, 17:25 WIB

Mengunjungi Hutan Meranti di Gunung Dawu Bogor

Farhan - detikNews
Mengunjungi Hutan Meranti di Gunung Dawu Bogor Hutan di Bogor (farhan/detikcom)
Bogor - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) hutan mengklaim telah berhasil melakukan uji coba penanaman pohon meranti di luar habitat aslinya.

Saat ini, KLHK telah memiliki hutan baru di dataran tingi seluas 170 hektare yang ditanami pohon meranti di Gunung Dahu, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hutan ini juga disebut sebagai hutan meranti satu-satunya di Indonesia yang tumbuh di dataran tinggi.

"Ini sebagai bukti bahwa pohon meranti juga dapat ditanam dan tumbuh di dataran tinggi, kalau habitat aslinya di Kalimantan itu kan (pohon) meranti tumbuh di dataran rendah," kata Atok Subiakto, Peneliti Madya di Puslitbang Hutan KLHK saat berbincang dengan detikcom di Gunung Dahu, Leuwiliang, Bogor beberapa waktu lalu.

"Ini juga merupakan hutan meranti satu-satunya di Indonesia yang tumbuh di dataran tinggi. Ini sekaligus jadi pilot projet dan bukti bahwa KLHK mampu menanam," imbuhnya.

Di lahan milik PT. Perhutani tersebut, KLHK mencoba menanam pohon meranti dengan beberapa pola jarak tanam sejak 1997 lalu. Hasilnya, beberapa pohon meranti tumbuh subur dengan kerimbunan dan diameter yang berbeda.

"Sekarang ada pohon yang diameternya mencapai 62 centimeter. Tingginya masing-masing berbeda sesuai pola tanamnya, ada yang tinggi tapi tidak rimbun, ada yang berdiameter besar tapi tetap rimbun," katanya.

Selain di Bogor, pohon meranti juga dicoba ditanam di lahan gambut di Riau oleh Balitbang Hutan KLHK. "Di Riau juga kita uji coba tanam pohon meranti di lahan gambut. Hasilnya tetap cukup baik jika ditanam di lahan gambut meski tanahnya masam," tambahnya.

Ditemui ditempat yang sama, Direktur Konservasi Tanah dan Air Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai, Hutan dan Lingkungan pada KLHK Muhamad Firman mengatakan, saat ini 90 persen bangunan di Indonesia menggunakan kayu meranti. Sebab secara kualitas, pohon meranti berada di urutan nomor dua setelah pohon atau kayu jati untuk bangunan dan furnitur. Namun, kayu meranti yang kini beredar masih berasal dari pohon yang tumbuh di hutan alam. Sehingga perlu diregenerasi jika tidak ingin pohon meranti punah karena dampak bisnis.

"Kami mengajak masyarakat untuk mulai berbudidaya pohon meranti. Hal ini sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pohon meranti yang berasal dari hutan alam. Kami KLHK siap membantu untuk pengadaan bibitnya," katanya.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed